12 Juni 2016

12 Ikat Peony (2)




-4-
Aku tak tahu siapa saja yang membicarakanku dalam tertawaan mereka. Yang memperhatikan bengong-nya aku di depan sini. Aku bahkan mulai tak peduli. Aku sudah duduk di depan kantor utama fakultas sejak beberapa jam lalu. Tidak ada kelas dan tidak ada ide untuk melakukan sesuatu hal. Pak Peci baru menyindirku meski kalimatnya tidak terang-terangan. Ia bilang. “Jadi hari ini dua pembeli tetap setia, kan?” Walaupun ia bertanya dengan guratan senyum, aku tahu ia berat hati menahanku di toko tempat ia menjual alat-alat rumah tangga. Bukan hanya aku yang di sana. Aku hanya salah satunya yang keluyuran menawarkan peralatan itu di pinggir-pinggir jalan. Kadang Pak Peci juga menyuruhku menyebar brosur tempat kursus adik lelakinya dan aku cukup dengan mendapatkan dua murid baru. Sebenarnya ia nyaris memecatku sehari sebelumnya, tapi aku memaksanya untuk jangan sekarang. Aku sedang mengumpulkan beberapa rupiah lagi, sebentar lagi…

Tepat dua jam lebih empat puluh lima menit aku duduk tercenung, Minnie membuatku lebih buruk dengan datang memelukku dan tertawa tak jelas. Ia sudah sembuh dari sakitnya dan aku mengeluarkan oleh-oleh sekalipun ia sudah punya barang sejenis itu di kamarnya, jam meja. Namun kali ini berbentuk Minnie Mouse dengan pita merah jambu dan ada ukiran namanya di bawah angkat dua belas.

          “Ini nih yang bikin seneng temenan sama kamu, ngeliatin kamu bengong terus aku dapat sesuatu,” Minnie tertawa.
Itu tidak lucu.
             “Eh, katanya kamu ketemu Panji di sana. Gimana bisa?”
           “Eh?” aku tak mendengar ucapannya barusan. Aku tidak tahu kenapa kepalaku rasanya penuh.
          “Panji… Rambut gondrongnya tahun lalu udah dipendekin kan?” Minnie melihatku dengan menggoda. Aku memasang wajah polos. Aku tak memperhatikan orang itu kemarin, karena aku tidak berharap.

Aku mengangkat bahu sejurus ketika Kak Gunung menyodorkan seikat kertas di hadapanku. Ia nyengir jelek. “Semester empat ya? Bagi ke temen-temenmu dan semua yang kamu temui di jalan. Kata Laskar, lue bakal bantu kita banget,” ia nyengir lagi.
Seketika dadaku dingin lalu keringatku panas. Kak Laskar masih bisa mengingatku. Ia masih percaya padaku. Sesepelenya undangan ini dan tak pedulinya aku tentang acara apalah ini, yang terpenting Kak Laskar memeperhatikanku.

Aku langsung berdiri dan menyambut segepok kertas itu. Kak Gunung kemudian menyerahi yang lainnya dalam kantung plastik. “Se…banyak itu…?” tanyaku.
Leherku seperti terjepit melihatnya.
Kak Gunung mengangguk. “Ya, harus segitu. Anyway, thanks yaa mau bantuin kita,” ia nyengir lagi sebelum benar-benar hilang dari depan kantor utama.
            “Ini ngerjain. Bukan minta tolong.”
            “Ini pertolongan,” timpalku.
          “Sekarang apa? Demi Laskar? Lue kan pemalu, lebih dari kucing. Oh, diem lue. Aku minta bantuan ke yang lain,” Minnie tiba-tiba bisa berlari cepat lebih dari runnerman  yang pernah aku lihat di film. Dalam beberapa waktu, Minnie sudah membagi isi kantung plastik kepada yang lain untuk diestafetkan. Ini yang buat aku senang mempunyai teman seperti Minnie. Urusanku selesai.

Setidaknya itu yang aku tahu sekarang. Ia tidak pernah memandangku dengan embel-embel lain selain aku hanya seorang anak manusia yang sama seperti sewajarnya. Ia tak menyinggungku tentang sesuatu. Apa yang ia tahu, ia ketahuinya sendiri. Menurutnya, aku dan ia sama saja. Aku tidak pernah menyalahkannya kenapa suatu hari ia harus membelaku, jika ia pernah melakukannya. Sisanya aku berusaha sendiri dengan diam atas diriku dan omongan yang lain. Selain Minnie, keluargaku sekarang adalah yang terbaik. Aku tidak tahu bagaimana mengucapkan terima kasih kepada mereka karena menyayangiku.

Dua hari setelah hari itu, kak Laskar menelfonku. Kami tidak membicarakan sesuatu yang penting. Namun aku tak merasa ini hanya basa-basi. Aku tahu bagaimana seriusnya ia dengan perkataannya meski aku tak dekat untuk mengenalnya. Undangan kemarin memang sudah disebar habis, dan penontonnya cukup berdesakkan. Aku sengaja tak datang untuk menonton  pentas berdonasi itu karena kak Laskar hanya di belakang layar dan ia tidak bisa melihatku. Tapi aku ke sana ketika acara selesai. Aku memperhatikannya dari jauh. Naifnya aku. Aku tak pernah melakukan ini. Segalanya seperti tidak mungkin. Kenapa hidupku penuh dengan kata ‘tidak’?

Tidak, tidak. Aku baik-baik saja. Jadi siang hari aku keluar seperti biasa. Ketika aku sampai di depan pintu, aku melihat kakaku, Dieng. Kami hampir sebaya. Anak laki-laki yang normal, tapi ia kemudian kehilangan keceriaan masa kecil denganku. Ia seperti berubah menjadi dirinya yang dewasa sampai aku sendiri meragukannya. Bisa dibilang aku anak nomor dua keluarga ini dan kakak lelakiku benar-benar melupakanku.

            “Kemana?” tanyanya setelah membuka sepatu. Aku nyaris keluar dari teras rumah.
            “Pergi ke toko. Nanti aku pulang setelah magrib, bilang Ibu ya…”
Ia diam memandangku, namun aku tahu ia akan mengatakannya seandainya Ibu bertanya tentangku. Setidaknya kakakku masih mengatakan sesuatu padaku meski kami masih saling diam dingin.

Aku pergi ke toko Pak Peci tapi beliau memberiku tugas lain. Sayangnya, aku tidak pandai menarik perhatian orang lain dan ini payah. Lebih baik jika waktu itu aku mendaftar ini kafe atau warung pecel. Hanya butuh senyuman. Aku gemetar sepanjang jalan dan benar-benar ragu untuk menghampiri orang-orang. Aku harus mengatakan apa pada calon pelanggan? Sekarang pak Peci menjualkan mukena ke rumah-rumah. Segala hal sepertinya ingin beliau jualkan. Aku tahu bagaimana kegigihan seorang pengusaha, namun aku baru bertemu orang seperti ini seumur hidupku. Dan lagi aku tidak pandai mengarang. Haruskan aku karang-karang?

Dua mukena sudah ada di depan seorang ibu dan ia meragukanku. Aku hanya bilang ia akan segera membutuhkannya selagi harganya masih lebih murah. Salahnya aku tak tahu harga umum, ia menolakku. Setidanya angka dua bisa menyelamatkanku dari PHK toko rintisan itu. Hari nyaris sore. Matahari turun dan aku memilih duduk istirahat. Ada tiga panggilan dari ibu dan satu dari kak Dieng. Kakak masih memedulikanku.

            “Rum?”
Aku mendongak menemukan Kak Panji dengan rambut berantakan di depanku. Tiba-tiba aku merasa gugup. Kupeluk erat kantung barang di perutku.
            “Lagi apa di sini? Sendirian…”
Aku berdiri dan ia melangkah mundur. “Ngga lagi apa-apa kok. Cuma… lagi nawarin barang ke orang-orang.”
            “Kamu jualan?” matanya membulat.
Aku mengangguk.
            “Kamu? Aku tahu keluargamu, kenapa kamu masih jualan?”
Rasanya aku sendiri yang merasa heran padanya. Apa yang ada difikirannya. Aku tanya, “Apa dilarang?”
            “Ng-ngga. Maksudku itu permulaan yang bagus,” Kak Panji menunduk mengalihkan pandangannya entah kepada apa. “Sudah laku berapa?”

Aku mengigit bibir bawahnya. Payah. Kenapa ia harus bertanya soal itu. Aku bergerak refleks karena ini terlalu kaku. “Belum ada.” Sepertinya pipiku mulai merah malu.
            “Apa kamu masih mau nerusin jualan? Ini udah sore.”
Aku tertampar mengingatnya. Tapi aku belum bisa pulang. Aku menggeleng kemudian, “Ngga. Belum. Aku selesaiin dulu ya…” cepat-cepat aku berlari darinya untuk terlihat buru-buru.
            “Sebentar, Rum,” tahannya.
Aku memutar badan.
            “Aku baru terfikir sesuatu. Ayo ikut aku,” tiba-tiba ia sudah menuju arah lain. Aku ragu-ragu namun memutuskan untuk mengekornya ke suatu tempat.

Aku memang tidak harus begini, tapi aku merasa enggan meminta uang pada Ibu untuk membeli tiket nonton festival Asia Tenggara minggu depan di gelora besar kota. Aku benar-benar tak sabar datang melihat pameran kebudayaan dari negara-negara ASEAN. Ini kesempatan bagus karena Ibu tak mengizinkanku seperti Kak Dieng yang bisa ke luar kota dengan teman-temannya. Aku mendengar beritanya sejak bulan lalu, jadi aku punya waktu cukup untuk mengumpulkan koin-koin demi dapat dua helai tiket. Uang jajanku sebulan masih kurang untuk rencana ini. tapi Ibu tak boleh tahu.

            “ASEAN Tour Festival itu? Ya ampun, Harum…”
            “Memangnya aku terlalu norak ya?” dua alisku naik mendangar tanggapan Kak Panji.
            “Ngga kok. Oh, kita udah sampai,” Kak Panji agak merunduk membisikkan sesuatu. “Nah, lihat cewek-cewek itu? Mereka pasti bakal beli mukenamu. Sana…” ia mendorong pundakku ke arah gerbang gapura indekos.

            “Eh?! Masak bisa begitu?”
Tidak ada jawaban. Ia hanya mengangkat dagunya menyuruhku cepat-cepat jalan. Akhirnya aku tak benar-benar yakin, namun ketika aku baru beberapa langkah, mereka langsung memanggilku dan mendatangiku.

            “Mau nawarin mukena kan? Aku ambil satu dong,” serobot seorang dari mereka lalu satu-satu memilih apa yang aku bawa. Anehnya aku tak perlu berkata banyak tiba-tiba barang yang dibawakan Pak Peci sudah habis. Di tanganku tinggal berlembar-lembar uang kertas.

            “Makasih… Harum…”
Aku terkejut. Bagaimana ia tahu namaku? Lekas aku turun dari teras sana kembali menemui Kak Panji di luar pagar. Ia sedang bersandar di ujung gerbang.
            “Bagaimana Kak Panji tahu mereka bakal beli?”
Ia hanya mengangkat bahu lalu berjalan pergi. Ia tak langsung pulang ke rumah melainkan ikut denganku ke toko Pak Peci. Seperti melihat anak ayam menetas ketika aku melihat raut wajah Pak Peci menerima kabarku. Ia sangat senang, tapi aku cepat mengatakan sesuatu padanya. Aku mengundurkan diri. Aku tahu betapa buruknya pekerjaanku selama tiga minggu terakhir ini. Di hari terakhir aku memang ingin menyelesaikannya dengan baik dan aku melakukannya.

            “Aku agak berat hati dengan keputusanmu, tapi kamu kelihatannya yakin. Aku cuma bisa bilang makasih. Jangan lupa mampir ke sini ya,” ia mengelus-elus peci bulatnya. Aku mengangguk. Ketika aku menengok Kak Panji di belakangku, aku melihatnya tersenyum. Kufikir ia memang aneh.

-5-
            “Apa? Makan malam?” aku nyaris berteriak di depan telefon genggamku. Kak Laskar ingin mengucapkan terima kasih dengan mengajakku makan malam. Ini keajaiban. Jadi aku memilih setelan yang pantas. Setelah sore aku keluar rumah lebih dulu melihat Kak Dieng belum pulang dan Ara—adik laki-lakiku yang baru tujuh tahun—masih meneruskan tidur siangnya.

Kafe yang dipilihnya di perempatan yang gayanya sangat cozy. Dindingnya hanya didominasi warna hitam, silver, dan abu-abu yang mengilap. Ada rak buku di jendela kacanya. Aku selalu memandang kafe itu dari seberang jalan ketika aku pulang. Aku pernah membujuk Minnie untuk menemaniku ke sana, tapi ia tidak sempat.

Aku pergi ke rumah Minnie dulu untuk mengabarinya berita bagus ini. Sayangnya ia tampak murung mendengar itu. Aku berusaha keras membuang fikiran burukku padanya. Mungkin suasana hatinya sedang jelek. Dengan menunggu Minnie mandi, berkali-kali aku melihat keluar lewat jendela kamar Minnie di mana jalanan kecil beberapa kali dilewati anak-anak bersepeda sore. Rasanya tidak sabar lagi. Jam tujuh, Minnie mengantarku ke pinggir jalan kafe itu lalu ia buru-buru pergi ke rumah sepupunya yang menggelar pesta pernikahan. Dalam dadaku makin gugup.

Ketika aku masuk, Kak Laskar sudah duduk di sana. Ia lebih dulu mengirimkan nomor mejanya. Aku bersikap semanis mungkin. Benar. Aku tak berani bicara banyak-banyak, namun menjaga kestabilan frekuensi senyum.

            “Aku minta maaf kalo aku pernah salah paham sama kamu…”
            “Nggak kok,” aku memotong kalimatnya. Ini buruk. Jangan diulangi.
          “Aku juga mau terima kasih atas semua bantuanmu dan semuanya yang kamu lakuin ke aku…”
Aku terlambat mengangguk. “Ya.”
            “Kamu itu baik banget. Eh, jangan berhenti makan. Kita udah pesen, kan mubazir,” lalu ia meneruskan makannya. Aku mengunyah lambat.
Kami terdiam beberapa waktu dan kufikir ini menegangkan. Jemariku jadi kaku.
            “Rum, aku…”
Aku cepat-cepat menghentikan semuanya. Gerakan dan semua fikiranku yang terbang-terbang. Aku siap mendengarkan apa pun kata-katanya.
            “Rum, aku ditelfon ketua. Mereka ada rapat. Aku duluan ya. Soalnya udah pada ngumpul,” Kak Laskar mengenakan jaketnya dan bergegas memberesi barang-barang di meja. Aku terlongo ketika ia melangkah pergi ke pintu keluar. Ia tak mengatakan apa-apa selain itu tadi. Maksudku, ia tak membayarkan makan malam ini. Ketika aku berdiri untuk melihatnya dari jendela kaca yang bening, seorang pelayan menghampiriku dan menyerahi harga makan malam ini.

            “Temanku lupa membayarnya dan ia ditelfon buat segera rapat. Bagaimana kalo aku tinggalin kartu identitas dan ponselku sebagai jaminan. Aku balik besok pagi,” kataku kepada kepala pimpinannya. Mereka langsung menyimpan barangku setelah kukeluarkan dari tas. Aku harus melakukan itu karena uangku tidak cukup melunasinya.

Tak menunggu lama, aku keluar dari sana. Dan menyandarkan punggungku di dinding batu kafe ini. Di luar dingin. Baru saja turun gerimis dan membuat jalanan lembab. Aku diam di sana beberapa saat lalu memutuskan pulang sendiri. Aku takut Ibu marah padaku. Fikiranku kacau.
            “Harum!”
Aku mendengar suara jengkel itu. Kuangkat kepalaku untuk melihatnya. Kak Dieng. Tampak di pandanganku bahwa matanya menyorot tajam dan penuh amarah untuk memukuliku. Ah, aku berlebihan. Ia berjalan ke arahku dengan bibir yang mengatup rapat.

            “Aku ngga suka ya kamu pergi-pergi gini. Repot nyarinya. Mana Ibu selalu nyuruh aku merhatiin kamu. Suruh jagain kamu. Ngga paham ya?” ia menarik sebelah daun telingaku yang tak tertutup rambut. Aku berjengit. Aku tidak kecil lagi seperti waktu itu aku mencuri kotak music dari kamarnya, tapi ia masih melakukan hal ini.
Telingaku memang tidak merah, mungkin sedikit bekasnya. Namun aku tersenyum. Ia memandangku heran. “Makasih udah jemput aku. Aku dari pesta pernikahan sepupunya Minnie kok.” Ya ampun aku baru berbohong.
            “Aku nggak peduli,” ia berjalan pulang. Lekas aku memburunya dari belakang.

-6-
Aku menyuruh Minnie menutup mulutnya karena cerewet bertanya tentang Kak Laskar yang tiba-tiba pulang duluan. Pagi ini aku datang menukar barang-barangku dengan bayaran sebenarnya. Di layar telefon genggam ada duapuluh satu panggilan termasuk dari Ibu, Kak Dieng, Minnie, panggilan rumah, Kak Laskar dan sebaris nomor asing. Aku menyelipkan ponselku ke kantung dan menyeret Minnie keluar dari sana. Anggap saja ini pemanasan. Kak Laskar akan minta maaf soal kemarin malam. Sejujurnya aku berfikir seperti itu.

Aku berdiri di halte menunggu bus yang mengantar ke loket pembelian tiket festival itu sementara Minnie punya ujian susulan. Uangku lebih dari cukup untuk dapat dua tiket. Dua. Aku benar-benar tidak sabar. Juga tidak sabar berdiri lama-lama di sini. Aku melepas pandangan bosan ke sekitar tepat ketika aku mendapati Kak Panji berdiri juga di sini. Ia tidak melihatku, tapi kemudian ia seolah mengetahui aku sedang memandangnya.

            “Ke mana?” tanyanya.
Aku hanya tersenyum. Ia berkerut heran.
            “Makan malamnya menyenangkan ya?” nadanya seolah bertanya pada diri sendiri.
Aku kembali memandang ke depan, ke deretan butik-butik di seberang.
Aku mengangguk, “Lumayan.”
            “Baguslah…” lalu ia melangkah pergi begitu saja. Aku ingin mengatakan bahwa busnya belum tiba, namun kutahan. Ia memang orangnya seperti itu. Dingin dan aneh. Kadang ia bersikap ramah dan menyenangkan seperti ketika kami di Bandung itu lalu ia berubah saat kembali ke kota. Ia memang berbeda dengan saudaranya, Laskar.
Dua menit kemudian, busku datang. Aku naik dan melihat Kak Panji yang masih di trotoar lewat kaca jendela bus. Aku tak habis fikir apa yang ada di dalam diriku sekarang bahkan sejak lama.



(8 Juni 2016)


sumber gambar favim.com

10 Mei 2016

Suara No. 1

Aku dibentuk oleh sebuah ketakutan yang menyesap setiap malam menjelang lelap. Gelisah. Mungkin ada baiknya aku mengatakan sesuatu. Mengatakan hal itu kepadamu. Apakah yang selama ini kau fikirkan? Aku melihatmu di dalam lemariku, di lembaran garis buku catatanku, di tumpukan awan bulu ayam itu, di ponselku, di sekop sendok yang memantul. Aku gila karena berlebihan tentangmu yang sebenarnya aku tahu, kau mengabaikan separuh lebih dari aku. Sudahlah, aku tak membahasnya, aku sedang terburu-buru saja. Karena aku tahu jawabannya akan 'ya' dan 'tidak', seharusnya aku tak tahu lebih dulu. Dan kata 'seharusnya' jangan pernah ada lagi.

Ketakutan kemudian membentukku menjadi kecil, bulat, gemuk, pesek, dan keriting. Aku tak bilang rambutku keriting, aku hanya memaknai kalau akan lebih susah dengan sesuatu yang keriting. Jariku keriting menghapus tulisan namamu, fikiranku sampai pori-pori kulit kepalaku tak berbenah. Aku malu sekali, tapi kali ini aku tidak sedang membicarakanmu. Aku bercerita tentang perbuatanmu. Di mana aku bisa menulis dengan baik dan rapi kronologi darimu. Aku sudah cukup untuk tak tertarik lebih panjang karena aku bosan dan kau yang paling bosan soal ini. Benar 'kan?

Akhir-akhir ini cuaca aneh sekali. Siang panas, malam mendingin lembab. Mungkin itu yang akan kulakukan juga. Aku benar-benar tidak berlebihan kan karena dianggurkan seperti gorengan depan pasar itu?

20 Januari 2016

Tragedi Di Atas Sungai dengan Plastik Warna-Warni






            Dua ratus lima puluh menit per dua aku tidak bisa membiarkan edaran darahku mengambang tenang. Otot elastisku menggeliat terus, terputar ke arah mana saja. Mata besarku membuka lebar melihat warna hitam di atas wajahku. Aku ingin mematikan semua energi tubuhku, aku membisik tujuh kali selama lebih dari satu jam sejak aku memuntahkan makan malam yang terbungkus kertas berlubang. Bau-bau itu yang tidak pernah bisa akrab di hidung setelah delapan tahun aku menempatkan sarang tertentu di dalam inderaku khusus untuknya. Aku menggeliat dan tidak sesuatu pun bergerak kecuali bulu mataku yang naik-turun, bahkan tak pernah bisa kulihat di permukaan air sekali pun. Aku tahu angin mendesir keras tiap malam. Kulitku sudah tebal dan mati rasa. Kecuali gemericik atau ayunan air yang menabrak beberapa sampah plastik yang terganjal. Aku mulai mual lagi mengiangnya.
            Tempat tidurku lebih dari keras. Kepalaku bisa pecah di atasnya beberapa kali. Tidak! Maksudku jika aku terpelanting tidak sengaja di atas kasurku sendiri. Tapi itu tidak pernah terjadi. Kasurku terbuat dari beton dan batu. Keras dan tidak selicin sabun yang sering dipromosikan di televisi para orang-orang kumuh di rumah pemukiman mereka. Mereka membeli sabun itu dan tidak berubah. Seperti aku yang semakin hari makin busuk berkubang di sini. Entah menua atau tiba-tiba mati tak ketahuan.
            Aku tertidur tiga jam setelah suara mesin mobil yang menginjak aspal berlarut lenyap, saat lampu-lampu tegak sendirian dan tidak digantungi lagi oleh anak-anak kurang kerjaan dan kurang pendidikan. Itu artinya pagi sebentar lagi mengetuk langit bumi membuang gelap malam. Ibuku yang hanya punya tiga potong baju atasan dan satu rok hitam tertambal akan membangunkanku jika sarapan ada. Kalau tidak punya, aku akan bangun kelaparan sambil melempar satu botol dan tetangga tenda akan berteriak girang menangkapnya di permukaan air yang abu-abu. Ibu langsung datang di atasku dan menyalakan wajah galak. Terhitung jutaan atau malah miliaran kali aku tidak menikmati rasanya sarapan dengan nasi goreng, roti tawar berselai, telor mata sapi, rebusan kacang merah, atau apalah. Makan siangku adalah tulang empuk di bagian persendian. Makan malamnya… ah, lain kali jangan bicara tentang makan.
            Salahnya Ibu dan Ayah mencari rumah di kota pekat ini. Yang mereka―dan aku―tempati hanyalah sebuah hamparan tidak rata di bawah aspal kuat tertiang besar dengan besi-besi rangka dan kami mengambang di atas aliran sungai berhias plastik-plastik warna-warni tak berupa. Aku dilahirkannya (Ibu) dalam lingkaran yang tidak membuat siapa pun puas selain ketika mendengar jeritanku yang sangar dan tak putus sampai malam lalu aku tertidur. Sekarang mungkin aku berfikir itu keadaan pingsan karena Ibu tidak punya air susu untukku lalu ia memberikanku pada wanita pengemis yang gemuk yang anak balitanya dua. Kemudian jadi tiga denganku. Dua tahun aku dengannya, aku diajari mengangkat tangan di dekat kaca mobil orang-orang. Aku bosan setelah dua tahun selanjutnya. Aku pulang ke sarang tak bernama dan mulai berubah menjadi zombie kelaparan yang hidup seolah enggan, mati tapi terlalu terburu sedang aku hidup dengan maut di sekeliling.
            Surga hanya ada di bulatan kecil sana. Aku melebarkan langkah darinya, pergi ke tepian yang becek dan hilang kecantikannya. Itu surga paksaan untuk kami selama kami diam membisu dengan bola mata yang terbuka lemah. Aku delapan tahun dan menyimpan cemburu, risih, benci, kutukan, dan segalanya yang tidak boleh diucapkan kata Ibu dan Ayah. Aku tidak harus makan, mandi, dan buang hajat di air yang sama. Atau Ibu yang tiba-tiba meminjam baju dari temannya meski sama rupa, kucel. Membiarkan kami, anak kecil yang manis berkeliling membiasakan pandangan dengan sampah hijau atau lalat yang terbang cepat. Tapi aku tidak mau mati di titik saat aku lapar dan menyuap nasi sisa yang mulai kuat baunya. Atau pada malam ketika tidak ingat lagi rasanya kasur kapuk, busa, dan sebagainya kemudian tiba-tiba tertidur pingsan tidak kembali sadar sama sekali.
            Sore hari rasanya seolah di tengah wilayah konflik. Panas, debu, lapar, luka di lambung, bibir pecah, wajah gelap berlumpur, menggeliat, terkapar lemah. Diam-diam teman Ibu yang bertudung kain panjang menangis keras memandang ke permukaan air meneriaki nama anaknya. Aku fikir ia tidak tahan keadaaan ini, tapi nyatanya anak balitanya yang pamit lebih dulu karena lelah minum air putih. Tubuh kurusnya yang kering menggelinding melampaui kamar tak berdinding dan terjun ke sungai yang merendam ribuan plastik sampah. Aku tidak melihat badannya sesaat, kemudian dua hari besoknya ia mengambang biru dan gempal di kilometer sekian, jauh meninggalkan kamarnya dan Ibunya yang berteriak parau sampai pingsan. Biar saja. Biar saja ia jauh tidak mengenal rasa pudarnya nasi bau dan tulang ayam.



Diketik pada 04 Juni 2015
Afida Harris



sumber gambar: www.aliexpress.com

10 Januari 2016

Petak Huruf Scrabble dan Menjelang Kematian




Judul Asli: Death by Scrabble
Penulis: Charlie Fish
Penerjemah: Afida Harris


            Ini hari yang panas dan aku benci istriku.
            Saat ini kami sedang bermain Scrabble. Alangkah buruknya hal ini. Aku 42 tahun dan ini adalah hari Minggu siang yang sangat terik, dan semua yang kufikirkan sepanjang hidupku adalah bermain Scrabble. Aku seharusnya ada di luar, melakukan olahraga, menghabiskan uang, bertemu dengan orang-orang. Kurasa aku tidak berbicara dengan siapa pun kecuali istriku sejak Kamis pagi. Oh, tidak, Kamis pagi aku bicara pada lelaki pengantar susu.
            Huruf-huruf yang kupunya sangat buruk.
            Aku bermain dengan kata BEGIN. Dengan huruf N di bintang kecil merah jambu. 22 poin. Aku melihat tampang sombong istriku saat ia menata ulang huruf-hurufnya. Ketak-ketak-ketak. Aku benci dia. Jika dia tidak ada di sini, aku akan melakukan sesuatu yang menarik sekarang juga. Aku akan mendaki gunung Kilimajaro, aku akan membintangi film hebat Hollywood. Aku akan berlayar ke Vendee Globe di atas sebuah kapal layar setinggi 60 kaki yang disebut Horison Baru―aku tak tahu, intinya aku akan melakukan sesuatu.
            Istriku memasang JINXED, dengan J pada kotak bernilai ganda. 30 poin. Dia menang dariku. Mungkin seharusnya aku membunuhnya. Andai aku punya huruf D, aku bisa memainkan kata MURDER. Itu akan jadi sebuah tanda. Itu akan jadi sebuah izin.
            Aku mulai mengunyah petak huruf U. Aku tahu, ini kebiasaan buruk. Semua huruf berantakan. Aku bermain dengan WARMER untuk 22 poin, jadi secara istimewa aku masih mengunyah U-ku.
Saat aku sedang mengambil huruf baru dari kantong, aku mendapatkan diriku berfikir – huruf-huruf ini akan menjelaskan padaku untuk melakukan apa. Jika huruf-huruf itu tereja KILL atau STAB, atau nama istriku, atau apa pun itu, aku akan melakukannya sekarang juga. Aku akan menyelesaikan dia.
Di rakku tersusun MIHZPA. Ditambah U di mulutku.
Sial. Hawa panas matahari berhembus padaku melalui jendela. Aku bisa mendengar dengung serangga di luar sana. Aku harap itu bukan lebah. Sepupuku, Harold menelan seekor lebah saat umurnya sembilan tahun, tenggorokannya bengkak dan ia meninggal. Aku harap jika serangga di luar itu lebah, mereka terbang ke tenggorokan istriku.

-2-
Dia memainkan kata SWEATIER, menggunakan seluruh huruf-hurufnya. 24 poin ditambah sebuah bonus 50 poin. Jika ini tidak terlalu gerah untuk bergerak, aku akan mencekik lehernya sekarang.
Aku berkeringat. Butuh air hujan untuk menyegarkan udara di sini. Lalu seketika itu sebuah pemikiran terlintas di fikiranku, aku menemukan sebuah kata yang bagus. HUMID di kotak kata berskor ganda, menggunakan huruf D dari kata JINXED. U membuat percikan air liur saat aku meletakkannya di bagian bawah mulut. Poin lainnya 22 poin. Aku berharap dia hanya punya huruf-huruf yang jelek.
Dia bicara padaku bahwa dia punya huruf-huruf yang jelak. Untuk beberapa alasan, aku sangat membencinya.
Dia menyusun kata FAN, dengan huruf F di kotak huruf ganda, dan dia bangkit untuk mengisi ceret dan menghidupan AC.
Ini hari terpanas selama sepuluh tahun dan istriku menghampiri ceret. Inilah kenapa aku membenci istriku. Aku kemudian memainkan ZAPS, dengan huruf Z yang ganda dan dia mendapat kejutan statis dari unit AC. Bukan main, aku merasa puas.
Dia duduk kembali dengan desahan yang berat dan mulai meremehkan huruf-hurufnya lagi. Ketak-ketak-ketak-ketak. Aku merasa ada kemarahan hebat dalam diriku. Racun di dalam perlahan menyebar melalui lenganku dan saat racun itu menyalur ke ujung jariku aku loncat dari kursiku, menumpahkan petak-petak Scrabble ke lantai dan aku memukul istriku berkali-kali.
Kemarahan sampai ke ujung jariku dan berlalu. Jantungku berdetak kencang. Aku berkeringat. Kufikir wajahku berkedut. Kemudian aku mendesah dengan keras, dan kembali duduk di kursiku. Ceret mulai bersuara. Dan siulan itu membuatku merasa lebih panas.
Dia memasang kata READY pada kotak kata ganda untuk 18 poin, kemudian ia pergi membuat secangkir teh. Tidak. Aku tidak mau secangkir pun.
Aku mencuri kotak kosong dari kantung huruf saat dia sedang tak melihat dan mengembalikan huruf V dari rakku. Dia memberiku sebuah pandangan curiga. Dia kembali duduk dengan secangkir tehnya, hawa panas membuat sebuah lingkaran cangkir di atas meja sementara aku memainkan delapan huruf untuk kata: CHEATING menggunakan A yang ada di kata READY. 64 poin termasuk 50 poin nilai bonus yang artinya aku mengalahkan dia.

-3-
Dia bertanya apakah aku curang.
Aku sungguh membencinya. Sungguh sangat membencinya!
Dia memainkan kata IGNORE pada kotak yang bernilai lipat-tiga untuk 21 poin. 153 untuknya dan 155 untukku.
Uap mengepul dari cangkir tehnya dan itu membuatku tambah merasa panas. Aku berfikir kata kejam selanjutnya dari huruf-huruf yang berjajar di rakku, tapi yang terbaik yang bisa kutemukan adalah kata SLEEP.
Istriku tidur sepanjang waktu. Dia juga tetap tidur walaupun tetangga sebelah rumah bertengkar sehingga pintu mereka rusak, televisi yang hancur, dan boneka Teletubby Lala dan seluruh isinya melayang keluar. Kemudian istriku menggerutu padaku karena murung di keesokan harinya setelah kurang tidur.
Seandainya ada beberapa cara untuk menyingkirkan dia.
Kali ini aku menggunakan seluruh kesempatan untuk memasang seluruh huruf yang kupunya. EXPLODES, menggunakan huruf X dari susunan JINXED. 72 poin. Itu akan memperlihatkan padanya. Sementara aku meletakkan huruf terakhir, ada sebuah ledakan keras yang memekakkan telinga dan unit AC rusak. Jantungku berlomba, tapi bukan kerena terkejut atas ledakan tadi. Aku tidak percaya, namun ini tidak mungkin kebetulan. Huruf-huruf seolah membuat sesuatu terjadi. Aku memasang kata EXPLODES, dan hal itu terjadi― perangkat AC rusak. Dan sebelumnya, aku memainkan CHEATING saat aku curang. Dan ZAP saat isteriku mendapat kejutan statis. Kata-kata menjadi nyata.  Huruf-huruf sedang memilih masa depan mereka. Seluruh permainan ini membawa sial.
Isteriku meletakkan kata SIGN dengan huruf N di kotak nilai huruf berlipat tiga untuk 10 poin.
Aku harus menguji yang satu ini.
Jadi aku harus menyusun sesuatu dan lihat apa yang akan terjadi. Sesuatu yang mungkin bisa membuktikan bahwa huruf-huruf itu menentukan satu hal terjadi. Di rakku ada huruf ABQYFWE. Itu tidak memberiku banyak pilihan. Aku mulai mengunyah huruf B dengan ketakutan.

-4-
Aku memainkan FLY dengan huruf L dari kata EXPLODES. Aku merebah di kursiku dan menutup dua mataku, menunggu perasaan melayang dari kursiku. Menunggu untuk terbang.
Bodoh. Aku membuka mata dan ada seekor lalat. Serangga yang berdengung di sekitar papan Scrabble, untuk berselancar dengan hawa panas dari cangkir teh yang hangat-hangat kuku. Itu jelas tidak membuktikan apa-apa. Bahkan lalat bisa berada di sana pula…
Aku butuh memasang sesuatu yang tidak samar-samar. suatu hal yang tidak bisa disalahartikan. Sesuatu yang mutlak dan terakhir. Sesuatu yang paling akhir. Satu hal yang membunuh.
Isteriku memainkan CAUTION, dengan huruf N di petak kosong. 18 poin.
Di rakku ada AQWEUK, dan huruf B di dalam mulutku. Aku terpesona dengan kekuatan huruf-huruf itu dan kecewa karena aku tidak menggunakannya. Mungkin aku bisa curang lagi dan mengambil beberapa huruf yang kubutuhkan untuk menyusun SPLASH atau SLAY.
Tapi kemudian aku tersadar. Sebuah kata sempurna. Sebuah kata yang kuat, berbahaya, dan mengerikan.
Aku memasang QUAKE yang bernilai 19 poin.
Aku ingin tahu seberapa kuat guncangan yang sebanding dengan banyaknya poin yang kudapat. Bahkan aku bisa merasakan tenaga potensial yang bergetar di pembuluh darahku. Aku memerintah nasib. Aku sedang mengelabuhi takdir.
Isteriku menyusun kata DEATH untuk 34 poin sementara ruangan mulai berguncang.
Aku terkesiap keras dan huruf B yang tadi kukunyah tersangkut di tenggorokan. Aku mencoba kerass untuk membatukkannya. Selanjutnya dalam hitungan detik wajahku berubah merah, lalu biru. Tenggorokanku membengkak besar. Darah pecah di leherku. Gempa bumi berakhir di puncaknya.
Aku jatuh ke lantai.
Dan isteriku hanya duduk di sana, di kursinya… melihatku sekarat.




Cerita diambil dari web: www.eastoftheweb.com




sumber gambar: www.alertsondemand.com

30 Oktober 2015

12 Ikat Peony (1)






            -1-
            Perjalanan ini akan mengambil waktu sepanjang malam dari Surabaya ke Bandung. Aku tak tahu alasan paling tepat kenapa kemudian dosenku memilih sebuah kota kecil di Bandung yang memiliki usaha perikanan bagus untuk kami kunjungi. Dua bus untuk dua kelas di mata kuliah ini. Aku fikir, bangku di bus-bus tak benar-benar penuh. Masing-masing punya tempat pilihan sendiri, dan aku bersama Minnie memutuskan sebuah bangku di bagian tengah. Sayangnya, hari ini Minnie sakit. Aku duduk sendiri ketika bus berangkat setelah sore tiba.
            Aku selalu merasa gelisah tiap kali punya perjalanan jauh dalam mobil. Bekalku cukup: keripik kentang, roti basah, air mineral, air jus kemasan, obat masuk angin, dan bahkan obat merah. Mataku terus nanar memandang luar sepanjang jalan lewat jendela kaca. Lampu-lampu di pinggir jalan tampaknya luar biasa dan berkesan, tapi aku tak suka warna hitam. Berkali-kali aku menghela napas sehingga menimbulkan uap di kaca mobil. Malam di musim penghujan ini dingin sekalipun tak ada air yang turun.
            Yang tak kusuka selanjutnya adalah waktu tidurku. Aku sungguh tak yakin bisa lelap jika terpejam di dalam kendaraan. Mungkin aku menutup rapat dua mataku, namun sel otakku menyala terang bahkan aku punya banyak gagasan selama berpura-pura tidur. Bus baru berhenti sejenak mendapati macet beberapa detik di jalan. Aku menyembunyikan dua tanganku di sebuah jaket bebas yang kutangkupkan di depan tubuhku. Jadi, totalnya aku mengenakan dua jaket. Tak ada yang berkomentar. Aku akan mendengar semua percakapan kecil sampai suara dengkuran. Aku tak pernah bisa tertidur.
            Wah, hebat! Itu hanya tebakanku. Kenyataannya aku merasa tak sadar setelah pukul sebelas dan aku terbangun jam 2 ketika kepalaku terguling ke bangku kosongnya Minnie. Tapi ada seorang di sana. Aku terantuk sudut pundaknya. Kurasa ia manusia yang tinggi. Aku tak cukup sadar ketika membalikkan badan memunggunginya. Sungguhan ada orang lain di sebelahku. Sepenangkapan inderaku ia… laki-laki. Oh, tidak! Kenapa?! Aku menarik ujung jaket dan menutup seluruh wajahku. Sejak kapan ada teman sebangku di sebelahku? Kali ini aku tak mencoba tidur sedetik pun. Akan kupastikan hal ini.
            Sesaat ponselku berbunyi dan aku khawatir mengganggu yang lain. Tanganku menelisik cepat ke kantung jaket yang kupakai. Dengan setengah sadar dan mata yang separuh terbuka aku menekan tombol jawab.
            “Hm…” gumamku. Adikku, Ara suka sekali berlaku iseng. Tak ia pernah membuka percakapan telefon dengan salam atau halo, jadi sering ia ditegur Ibu. Sehingga sah saja kan ketika aku mau menjawab dengan seenakku.
            “Aku hanya mau duduk di sini. Sumpah aku ngga bakal ngapa-ngapain selain duduk. Aku punya insomnia sejak semester akhir, jadi aku ngga bakal tidur juga…”
            Jantungku mencelos. Suaranya mengganda. Di sambungan telefon dan di sebelahku. Leherku secara lamban menoleh dan seorang di sebelahku mengacungkan ponselnya. Kurasa aku baru saja mengguratkan raut tak senang dengan kejutan, apa pun itu. Kulungsurkan kembali ponselku ke saku jaket dan berpaling darinya. Ini tak lucu. Aku mendengar seluruh gerutuku dalam hati. Bus ini berhenti di tempat pengisian bahan bakar. Lampu-lampu di dinding itu hidup dengan terang mengalahkan daya mataku yang meremang. Aih! Aku ingat sesuatu. Bagaimana… “Hei!” aku memutar kepala ke bangku sebelah yang mendadak kosong. Aku baru berniat menanyakan bagaimana ia punya nomorku.
            Beberapa teman lain turun untuk ke kamar kecil atau membeli beberapa camilan ringan. Dua pundakku melorot. Setelah aku mengingat sekilas wajahnya, aku tak berhasil mengingat sedikit pun. Bulu kudukku berdiri. Ada aliran dingin yang merambat di bawah kulit dan membuat wujud aneh di pori-pori seluruh kulitku. Aku membenarkan posisi jaket selimutku tadi yang sempat jatuh. Setelah beberapa menit bus ini melaju, orang tadi tak kembali.

-2-
Jangka waktu kami di sini hanya sehari selama periode terang bercahaya, maksudku kami akan kembali setelah sore hari nanti. Dosenku ini tampak bergairah mengenalkan apa-apa yang ada di tambak ikan mas milik seorang bapak yang ternyata adalah teman kuliahnya dulu. Aku nyaris menepuk jidat. Tentu saja ia ingin mengunjungi teman satu kosannya itu. Lalu kami masing-masing berpencar mengelilingi tempat ini, dan aku tak tahu harus pergi dengan siapa. Yang kutahu aku hanya bisa membuntuti dosenku dan empat mahasiswa yang mendengarkan penjelasannya.
“Rum, ini pegang sebentar ya…”
Dan… ya, menjadi tukang bantu-bantu memegang tali, plastik air, seikat ikan, buku mereka, atau memotret gambar mereka bersama ikan dan kolamnya. Bagus. Aku juga bolak-balik mengusung ember berisi ikan-ikan. Kesempatan langka, mereka sedang memanen ikan dan sepertinya ini sangat dimanfaatkan dosenku. Aku menenteng empat kali dan berniat menyerah untuk yang kelima saat seorang merebut ember itu dengan dalih akan memasak ikan didalamnya. Buku dan penaku jatuh. Aku mengambil buku dan mengabaikan di mana keberadaan alat menulis itu lagipula aku punya beberapa di dalam tas.
Aku berbalik untuk pergi ke rumah utama, mungkin seorang tengah memasak sesuatu. Aku lapar sekali. Tadi sarapanku diminta setengah oleh teman lelaki dari kelas sebelah. Aku tak heran, bahkan badannya juga lebih berbobot dariku.
“Hei, penamu.”
Oh, ya. Aku juga tak nyaman ketika seorang menghalangi jalanku dengan panggilan dari balik punggungku. Aku menengoknya. Tepat! Laki-laki semalam mengacungkan pena milikku. “Ambil aja.” Aku bersumpah tak akan mengambilnya. Ubun-ubunku rasanya mendidih. Jujur, meski ini musim hujan, matahari membulat panas di lautan langit yang disapu awan kelabu membuat udara terasa tak sehat.
Aku akhirnya duduk membaris bersama ibu-ibu dan beberapa pekerja di tambak yang siap menonton lomba mengumpulkan panenan ikan di bak besar. Pesertanya mahasiswa laki-laki, dan oh baiklah… aku sudah mengira kaos mereka akan kotor oleh air keruh dan sedikit lumpur. Lalu mataku menangkap seorang yang berbadan tinggi di sudut kolam dengan kepala diikat sebuah bandana. Aneh, aku seperti pernah melihatnya. Ibu-ibu di sebelahku mendadak menjerit histeris sambil menunjuk-nunjuk di mana seekor ikan bergeliat. Tak sadar peluit sudah terpekik dan perlombaan dimulai. Ini keren. Suasana ricuh sementara aku duduk mematung memeluk bukuku.
Di tengah acara ini, seorang ibu membawa sebuah ember berisi ikan besar. Aku tahu ia akan membuat makan siang untuk kami. Maka aku melarikan diri dari sini mengekor ibu itu dan meminta embernya untuk kubawakan. Ia bertanya, kira-kira masakan apa yang kami suka. “Ah… Kami bukan orang yang pilih-pilih asal kami ada nasi,” kataku nyaris tersenyum. Aku tak sengaja, hanya wajah ibu ini seolah membiusku untuk tersenyum.
Aku duduk di teras belakang dapur dengan ibu tadi. Aku tak pandai membersihkan sisik ikan, jadi aku hanya melihat. Dan payah soal masak-memasak, jadi aku cuma menonton. Aih, kenapa aku seorang perempuan kalau begini? Ibu ini tersenyum menanggapiku. Ia bahkan menyarankanku mengingat apa yang baru ia kerjakan. Aku mencatatnya. Serius, kubuat catatan di buku ini. Dosenku bilang aku harus mencatat hal penting, dan ibu ini bilang masak adalah hal penting. Baiklah, aku setuju.
Bau-bau memenuhi udara sekitarku. Wangi. Air kuah di dalam wajan besar ini meletup-letup pecah. Warna kuahnya membuatku melelehkan air liur. Kebiasaan ketika di rumah, aku sering memaksa Ibuku untuk membolehkanku mencicipi masakannya. Aku tak melakukannya di sini.
“Harum, ayo bakar ikan!” aku menoleh ke arah pagar kecil di rumah bagian belakang. Laki-laki dengan kepala terikat bandana dan kaos basah yang kotor menunjukkan dua ekor ikan sebesar telapak kaki raksasa. Aku tak pernah melihat raksasa, tapi ya seperti itu. Aku tak membual. Dua ikan itu sungguh lebar dan aku tak yakin pernah melihatnya.
Aku bangkit dari dudukku di kursi kecil. “Aku lebih suka ikan pepes.” Ah, aku tak sadar, aku baru saja menolaknya. Seketika tampang kecewa terjiplak di wajahnya. Ia terdiam.
“Kalau gitu, ayo kita buat pepes ikan,” sahut ibu tadi di sebelahku. Ia melambaikan tangan pada laki-laki itu. “Ibu nyari daun dulu,” katanya sambil menerima dua ekor ikan dari laki-laki ini.
“Aku aja yang nyari,” timpalnya kemudian menghilang.
Aku dan ibu ini saling pandang dan ia memberiku isyarat untuk meracik bumbunya.
“Ibu kenal dosenku Pak Ben?”
“He.em. Dia sering datang kalau ada hari libur. Seperti saudara. Waktu kami kekurangan modal karena gagal panen, dia membantu kami. Kami saling kenal baik,” ibu ini membuka tutup panci. Uapnya mengepul tinggi dan lenyap di langit-langit teras secara perlahan.

-3-
Aku bisa tertawa sekarang. Bumbu olahanku tak buruk sama sekali. Makan siang lewat satu setengah jam yang lalu. Kepalaku berkunang-kunang menunggunya. Sekarang aku duduk di tempat makan sederhana dengan gaya pedesaan Sunda tak jauh dari tambak ikan tadi. Rumah makan ini masih milik orang yang sama. Ada alunan khas Sunda yang menyebar di sekitar sini. Teman-temanku tadi selesai lebih dulu karena mengambil makan siang lebih dulu. Mereka menelantarkan duri dan tulangnya di atas meja.
“Kayaknya kamu anak aneh. Di mana-mana selalu sendiri,” laki-laki itu muncul lagi di depanku, di seberang meja. Ujung rambutnya basah. Beruntung aku tak punya keinginan untuk memborgol dan menginterogasinya habis-habisan.
Ia duduk membuka daun pisang pembungkus ikan pepes. Ibu tadi sudah memotong tubuh ikan itu sesuai porsi wajar. Ia tak melihatku, tapi aku seperti pernah mengetahui namanya. “Kak Panji, kenapa di sini?”
“Hm… Ikut jalan-jalan doang.”
Oh, benar. Tapi entah Panji yang keberapa. Ada banyak Panji di kampus. Dan aku tak pernah mengenal satu pun dari mereka. Tak peduli wajah mereka. “Kok Kak Panji tau nomorku?”
“Kenapa aku ngga boleh tau? Oh, anyway, kamu yang buat bumbu pepesnya? Enak tau. Ya, asin dikit sih.”
“Hantu!”
“Hah?”
“Oh ya, dan aku bukannya anti sosial. Teman sebangkuku lagi sakit, dan temanku yang lain pergi mandi.”
Panji mendorong piring sisa ikannya. Ternyata ia tak makan nasi siang ini. Ia selesai dengan sebungkus pepes. “Aku ngga bilang kamu anti sosial. Tapi, dengan kamu sendiri, keliatannya orang lain mudah masuk mengambil kesempatanmu.”
“Kesem…”
“Hm, kesempatan. Mungkin Laskar bisa menangin hatimu, tapi aku barusan ngalahin dia karena dia ngga pernah makan pepesmu dan makan siang bareng kamu kayak gini. Jadi dia ngga pinter ngambil kesempatanmu, kan?”
Dua lututku membeku. Ia tepat menatapku sampai ke dasar penglihatanku. Mungkin detik ini ia berhasil mengorek semua isi kepalaku di mana nama Laskar tetap teronggok berdebu karena kubiarkan ada walau aku tak dilihatnya sebentar. Kemarin aku baru membenahi tumpukan fikiranku yang sempat kacau dengan melihat orang itu datang ke halaman kampus. Dan sekarang… aku tahu orang ini. Panji adalah saudara kembar Laskar. Mereka tidak identik dengan kepribadian yang tak sama. Kalau Laskar suka martabak telor, Panji membencinya―katanya amis. Kalau Panji suka jalan-jalan, Laskar hanya akan di dalam kamar menonton film atau bermain game. Kalau Panji suka gaya simpel, Laskar memilih yang lebih ribet. Kalau Laskar suka cewek jenis itu, Panji suka yang sebaliknya. Kalau Laskar tak suka dengan cewek ini, maka Panji akan menyukainya. Kalau Laskar tak suka denganku, itu artinya…
Aku menggigit jari telunjukku yang menyisakan rasa garam dan rempah. Isyarat ini pasti berbohong. Namun aku tak bisa membuat alasan kenapa Panji punya nomorku. Ia bahkan bisa berkata langsung denganku di dalam bus kemarin. Ia tak mungkin menamainya di kontak ponselnya tanpa sebab penting karena antara kami tak ada urusan kampus atau di kegiatan luar kampus. Lagipula dua saudara itu akan wisuda tahun ini.
“Mungkin Laskar bisa menangin hatimu, tapi aku barusan ngalahin dia karena dia ngga pernah makan pepesmu dan makan siang bareng kamu kayak gini. Jadi dia ngga pinter ngambil kesempatanmu, kan?”
Laskar tak mungkin melakukan hal itu pada gadis kuper sepertiku yang tidak pernah tampak di umum. Belakangan aku sering menertawakan diriku sendiri yang bodoh sekalipun aku tahu kepribadianku dan Laskar bertolak belakang dan aku tetap menyukainya diam-diam.
“Hei, mereka mau mampir ke Cihampelas,” Panji menggerakkan kepalanya.



(13 Oktober 2015)



sumber gambar www.freewhd.com
luvne.com luvne.com ayeey.com cicicookies.com mbepp.com kumpulanrumusnya.comnya.com.com