12 Juni 2016

12 Ikat Peony (2)




-4-
Aku tak tahu siapa saja yang membicarakanku dalam tertawaan mereka. Yang memperhatikan bengong-nya aku di depan sini. Aku bahkan mulai tak peduli. Aku sudah duduk di depan kantor utama fakultas sejak beberapa jam lalu. Tidak ada kelas dan tidak ada ide untuk melakukan sesuatu hal. Pak Peci baru menyindirku meski kalimatnya tidak terang-terangan. Ia bilang. “Jadi hari ini dua pembeli tetap setia, kan?” Walaupun ia bertanya dengan guratan senyum, aku tahu ia berat hati menahanku di toko tempat ia menjual alat-alat rumah tangga. Bukan hanya aku yang di sana. Aku hanya salah satunya yang keluyuran menawarkan peralatan itu di pinggir-pinggir jalan. Kadang Pak Peci juga menyuruhku menyebar brosur tempat kursus adik lelakinya dan aku cukup dengan mendapatkan dua murid baru. Sebenarnya ia nyaris memecatku sehari sebelumnya, tapi aku memaksanya untuk jangan sekarang. Aku sedang mengumpulkan beberapa rupiah lagi, sebentar lagi…

Tepat dua jam lebih empat puluh lima menit aku duduk tercenung, Minnie membuatku lebih buruk dengan datang memelukku dan tertawa tak jelas. Ia sudah sembuh dari sakitnya dan aku mengeluarkan oleh-oleh sekalipun ia sudah punya barang sejenis itu di kamarnya, jam meja. Namun kali ini berbentuk Minnie Mouse dengan pita merah jambu dan ada ukiran namanya di bawah angkat dua belas.

          “Ini nih yang bikin seneng temenan sama kamu, ngeliatin kamu bengong terus aku dapat sesuatu,” Minnie tertawa.
Itu tidak lucu.
             “Eh, katanya kamu ketemu Panji di sana. Gimana bisa?”
           “Eh?” aku tak mendengar ucapannya barusan. Aku tidak tahu kenapa kepalaku rasanya penuh.
          “Panji… Rambut gondrongnya tahun lalu udah dipendekin kan?” Minnie melihatku dengan menggoda. Aku memasang wajah polos. Aku tak memperhatikan orang itu kemarin, karena aku tidak berharap.

Aku mengangkat bahu sejurus ketika Kak Gunung menyodorkan seikat kertas di hadapanku. Ia nyengir jelek. “Semester empat ya? Bagi ke temen-temenmu dan semua yang kamu temui di jalan. Kata Laskar, lue bakal bantu kita banget,” ia nyengir lagi.
Seketika dadaku dingin lalu keringatku panas. Kak Laskar masih bisa mengingatku. Ia masih percaya padaku. Sesepelenya undangan ini dan tak pedulinya aku tentang acara apalah ini, yang terpenting Kak Laskar memeperhatikanku.

Aku langsung berdiri dan menyambut segepok kertas itu. Kak Gunung kemudian menyerahi yang lainnya dalam kantung plastik. “Se…banyak itu…?” tanyaku.
Leherku seperti terjepit melihatnya.
Kak Gunung mengangguk. “Ya, harus segitu. Anyway, thanks yaa mau bantuin kita,” ia nyengir lagi sebelum benar-benar hilang dari depan kantor utama.
            “Ini ngerjain. Bukan minta tolong.”
            “Ini pertolongan,” timpalku.
          “Sekarang apa? Demi Laskar? Lue kan pemalu, lebih dari kucing. Oh, diem lue. Aku minta bantuan ke yang lain,” Minnie tiba-tiba bisa berlari cepat lebih dari runnerman  yang pernah aku lihat di film. Dalam beberapa waktu, Minnie sudah membagi isi kantung plastik kepada yang lain untuk diestafetkan. Ini yang buat aku senang mempunyai teman seperti Minnie. Urusanku selesai.

Setidaknya itu yang aku tahu sekarang. Ia tidak pernah memandangku dengan embel-embel lain selain aku hanya seorang anak manusia yang sama seperti sewajarnya. Ia tak menyinggungku tentang sesuatu. Apa yang ia tahu, ia ketahuinya sendiri. Menurutnya, aku dan ia sama saja. Aku tidak pernah menyalahkannya kenapa suatu hari ia harus membelaku, jika ia pernah melakukannya. Sisanya aku berusaha sendiri dengan diam atas diriku dan omongan yang lain. Selain Minnie, keluargaku sekarang adalah yang terbaik. Aku tidak tahu bagaimana mengucapkan terima kasih kepada mereka karena menyayangiku.

Dua hari setelah hari itu, kak Laskar menelfonku. Kami tidak membicarakan sesuatu yang penting. Namun aku tak merasa ini hanya basa-basi. Aku tahu bagaimana seriusnya ia dengan perkataannya meski aku tak dekat untuk mengenalnya. Undangan kemarin memang sudah disebar habis, dan penontonnya cukup berdesakkan. Aku sengaja tak datang untuk menonton  pentas berdonasi itu karena kak Laskar hanya di belakang layar dan ia tidak bisa melihatku. Tapi aku ke sana ketika acara selesai. Aku memperhatikannya dari jauh. Naifnya aku. Aku tak pernah melakukan ini. Segalanya seperti tidak mungkin. Kenapa hidupku penuh dengan kata ‘tidak’?

Tidak, tidak. Aku baik-baik saja. Jadi siang hari aku keluar seperti biasa. Ketika aku sampai di depan pintu, aku melihat kakaku, Dieng. Kami hampir sebaya. Anak laki-laki yang normal, tapi ia kemudian kehilangan keceriaan masa kecil denganku. Ia seperti berubah menjadi dirinya yang dewasa sampai aku sendiri meragukannya. Bisa dibilang aku anak nomor dua keluarga ini dan kakak lelakiku benar-benar melupakanku.

            “Kemana?” tanyanya setelah membuka sepatu. Aku nyaris keluar dari teras rumah.
            “Pergi ke toko. Nanti aku pulang setelah magrib, bilang Ibu ya…”
Ia diam memandangku, namun aku tahu ia akan mengatakannya seandainya Ibu bertanya tentangku. Setidaknya kakakku masih mengatakan sesuatu padaku meski kami masih saling diam dingin.

Aku pergi ke toko Pak Peci tapi beliau memberiku tugas lain. Sayangnya, aku tidak pandai menarik perhatian orang lain dan ini payah. Lebih baik jika waktu itu aku mendaftar ini kafe atau warung pecel. Hanya butuh senyuman. Aku gemetar sepanjang jalan dan benar-benar ragu untuk menghampiri orang-orang. Aku harus mengatakan apa pada calon pelanggan? Sekarang pak Peci menjualkan mukena ke rumah-rumah. Segala hal sepertinya ingin beliau jualkan. Aku tahu bagaimana kegigihan seorang pengusaha, namun aku baru bertemu orang seperti ini seumur hidupku. Dan lagi aku tidak pandai mengarang. Haruskan aku karang-karang?

Dua mukena sudah ada di depan seorang ibu dan ia meragukanku. Aku hanya bilang ia akan segera membutuhkannya selagi harganya masih lebih murah. Salahnya aku tak tahu harga umum, ia menolakku. Setidanya angka dua bisa menyelamatkanku dari PHK toko rintisan itu. Hari nyaris sore. Matahari turun dan aku memilih duduk istirahat. Ada tiga panggilan dari ibu dan satu dari kak Dieng. Kakak masih memedulikanku.

            “Rum?”
Aku mendongak menemukan Kak Panji dengan rambut berantakan di depanku. Tiba-tiba aku merasa gugup. Kupeluk erat kantung barang di perutku.
            “Lagi apa di sini? Sendirian…”
Aku berdiri dan ia melangkah mundur. “Ngga lagi apa-apa kok. Cuma… lagi nawarin barang ke orang-orang.”
            “Kamu jualan?” matanya membulat.
Aku mengangguk.
            “Kamu? Aku tahu keluargamu, kenapa kamu masih jualan?”
Rasanya aku sendiri yang merasa heran padanya. Apa yang ada difikirannya. Aku tanya, “Apa dilarang?”
            “Ng-ngga. Maksudku itu permulaan yang bagus,” Kak Panji menunduk mengalihkan pandangannya entah kepada apa. “Sudah laku berapa?”

Aku mengigit bibir bawahnya. Payah. Kenapa ia harus bertanya soal itu. Aku bergerak refleks karena ini terlalu kaku. “Belum ada.” Sepertinya pipiku mulai merah malu.
            “Apa kamu masih mau nerusin jualan? Ini udah sore.”
Aku tertampar mengingatnya. Tapi aku belum bisa pulang. Aku menggeleng kemudian, “Ngga. Belum. Aku selesaiin dulu ya…” cepat-cepat aku berlari darinya untuk terlihat buru-buru.
            “Sebentar, Rum,” tahannya.
Aku memutar badan.
            “Aku baru terfikir sesuatu. Ayo ikut aku,” tiba-tiba ia sudah menuju arah lain. Aku ragu-ragu namun memutuskan untuk mengekornya ke suatu tempat.

Aku memang tidak harus begini, tapi aku merasa enggan meminta uang pada Ibu untuk membeli tiket nonton festival Asia Tenggara minggu depan di gelora besar kota. Aku benar-benar tak sabar datang melihat pameran kebudayaan dari negara-negara ASEAN. Ini kesempatan bagus karena Ibu tak mengizinkanku seperti Kak Dieng yang bisa ke luar kota dengan teman-temannya. Aku mendengar beritanya sejak bulan lalu, jadi aku punya waktu cukup untuk mengumpulkan koin-koin demi dapat dua helai tiket. Uang jajanku sebulan masih kurang untuk rencana ini. tapi Ibu tak boleh tahu.

            “ASEAN Tour Festival itu? Ya ampun, Harum…”
            “Memangnya aku terlalu norak ya?” dua alisku naik mendangar tanggapan Kak Panji.
            “Ngga kok. Oh, kita udah sampai,” Kak Panji agak merunduk membisikkan sesuatu. “Nah, lihat cewek-cewek itu? Mereka pasti bakal beli mukenamu. Sana…” ia mendorong pundakku ke arah gerbang gapura indekos.

            “Eh?! Masak bisa begitu?”
Tidak ada jawaban. Ia hanya mengangkat dagunya menyuruhku cepat-cepat jalan. Akhirnya aku tak benar-benar yakin, namun ketika aku baru beberapa langkah, mereka langsung memanggilku dan mendatangiku.

            “Mau nawarin mukena kan? Aku ambil satu dong,” serobot seorang dari mereka lalu satu-satu memilih apa yang aku bawa. Anehnya aku tak perlu berkata banyak tiba-tiba barang yang dibawakan Pak Peci sudah habis. Di tanganku tinggal berlembar-lembar uang kertas.

            “Makasih… Harum…”
Aku terkejut. Bagaimana ia tahu namaku? Lekas aku turun dari teras sana kembali menemui Kak Panji di luar pagar. Ia sedang bersandar di ujung gerbang.
            “Bagaimana Kak Panji tahu mereka bakal beli?”
Ia hanya mengangkat bahu lalu berjalan pergi. Ia tak langsung pulang ke rumah melainkan ikut denganku ke toko Pak Peci. Seperti melihat anak ayam menetas ketika aku melihat raut wajah Pak Peci menerima kabarku. Ia sangat senang, tapi aku cepat mengatakan sesuatu padanya. Aku mengundurkan diri. Aku tahu betapa buruknya pekerjaanku selama tiga minggu terakhir ini. Di hari terakhir aku memang ingin menyelesaikannya dengan baik dan aku melakukannya.

            “Aku agak berat hati dengan keputusanmu, tapi kamu kelihatannya yakin. Aku cuma bisa bilang makasih. Jangan lupa mampir ke sini ya,” ia mengelus-elus peci bulatnya. Aku mengangguk. Ketika aku menengok Kak Panji di belakangku, aku melihatnya tersenyum. Kufikir ia memang aneh.

-5-
            “Apa? Makan malam?” aku nyaris berteriak di depan telefon genggamku. Kak Laskar ingin mengucapkan terima kasih dengan mengajakku makan malam. Ini keajaiban. Jadi aku memilih setelan yang pantas. Setelah sore aku keluar rumah lebih dulu melihat Kak Dieng belum pulang dan Ara—adik laki-lakiku yang baru tujuh tahun—masih meneruskan tidur siangnya.

Kafe yang dipilihnya di perempatan yang gayanya sangat cozy. Dindingnya hanya didominasi warna hitam, silver, dan abu-abu yang mengilap. Ada rak buku di jendela kacanya. Aku selalu memandang kafe itu dari seberang jalan ketika aku pulang. Aku pernah membujuk Minnie untuk menemaniku ke sana, tapi ia tidak sempat.

Aku pergi ke rumah Minnie dulu untuk mengabarinya berita bagus ini. Sayangnya ia tampak murung mendengar itu. Aku berusaha keras membuang fikiran burukku padanya. Mungkin suasana hatinya sedang jelek. Dengan menunggu Minnie mandi, berkali-kali aku melihat keluar lewat jendela kamar Minnie di mana jalanan kecil beberapa kali dilewati anak-anak bersepeda sore. Rasanya tidak sabar lagi. Jam tujuh, Minnie mengantarku ke pinggir jalan kafe itu lalu ia buru-buru pergi ke rumah sepupunya yang menggelar pesta pernikahan. Dalam dadaku makin gugup.

Ketika aku masuk, Kak Laskar sudah duduk di sana. Ia lebih dulu mengirimkan nomor mejanya. Aku bersikap semanis mungkin. Benar. Aku tak berani bicara banyak-banyak, namun menjaga kestabilan frekuensi senyum.

            “Aku minta maaf kalo aku pernah salah paham sama kamu…”
            “Nggak kok,” aku memotong kalimatnya. Ini buruk. Jangan diulangi.
          “Aku juga mau terima kasih atas semua bantuanmu dan semuanya yang kamu lakuin ke aku…”
Aku terlambat mengangguk. “Ya.”
            “Kamu itu baik banget. Eh, jangan berhenti makan. Kita udah pesen, kan mubazir,” lalu ia meneruskan makannya. Aku mengunyah lambat.
Kami terdiam beberapa waktu dan kufikir ini menegangkan. Jemariku jadi kaku.
            “Rum, aku…”
Aku cepat-cepat menghentikan semuanya. Gerakan dan semua fikiranku yang terbang-terbang. Aku siap mendengarkan apa pun kata-katanya.
            “Rum, aku ditelfon ketua. Mereka ada rapat. Aku duluan ya. Soalnya udah pada ngumpul,” Kak Laskar mengenakan jaketnya dan bergegas memberesi barang-barang di meja. Aku terlongo ketika ia melangkah pergi ke pintu keluar. Ia tak mengatakan apa-apa selain itu tadi. Maksudku, ia tak membayarkan makan malam ini. Ketika aku berdiri untuk melihatnya dari jendela kaca yang bening, seorang pelayan menghampiriku dan menyerahi harga makan malam ini.

            “Temanku lupa membayarnya dan ia ditelfon buat segera rapat. Bagaimana kalo aku tinggalin kartu identitas dan ponselku sebagai jaminan. Aku balik besok pagi,” kataku kepada kepala pimpinannya. Mereka langsung menyimpan barangku setelah kukeluarkan dari tas. Aku harus melakukan itu karena uangku tidak cukup melunasinya.

Tak menunggu lama, aku keluar dari sana. Dan menyandarkan punggungku di dinding batu kafe ini. Di luar dingin. Baru saja turun gerimis dan membuat jalanan lembab. Aku diam di sana beberapa saat lalu memutuskan pulang sendiri. Aku takut Ibu marah padaku. Fikiranku kacau.
            “Harum!”
Aku mendengar suara jengkel itu. Kuangkat kepalaku untuk melihatnya. Kak Dieng. Tampak di pandanganku bahwa matanya menyorot tajam dan penuh amarah untuk memukuliku. Ah, aku berlebihan. Ia berjalan ke arahku dengan bibir yang mengatup rapat.

            “Aku ngga suka ya kamu pergi-pergi gini. Repot nyarinya. Mana Ibu selalu nyuruh aku merhatiin kamu. Suruh jagain kamu. Ngga paham ya?” ia menarik sebelah daun telingaku yang tak tertutup rambut. Aku berjengit. Aku tidak kecil lagi seperti waktu itu aku mencuri kotak music dari kamarnya, tapi ia masih melakukan hal ini.
Telingaku memang tidak merah, mungkin sedikit bekasnya. Namun aku tersenyum. Ia memandangku heran. “Makasih udah jemput aku. Aku dari pesta pernikahan sepupunya Minnie kok.” Ya ampun aku baru berbohong.
            “Aku nggak peduli,” ia berjalan pulang. Lekas aku memburunya dari belakang.

-6-
Aku menyuruh Minnie menutup mulutnya karena cerewet bertanya tentang Kak Laskar yang tiba-tiba pulang duluan. Pagi ini aku datang menukar barang-barangku dengan bayaran sebenarnya. Di layar telefon genggam ada duapuluh satu panggilan termasuk dari Ibu, Kak Dieng, Minnie, panggilan rumah, Kak Laskar dan sebaris nomor asing. Aku menyelipkan ponselku ke kantung dan menyeret Minnie keluar dari sana. Anggap saja ini pemanasan. Kak Laskar akan minta maaf soal kemarin malam. Sejujurnya aku berfikir seperti itu.

Aku berdiri di halte menunggu bus yang mengantar ke loket pembelian tiket festival itu sementara Minnie punya ujian susulan. Uangku lebih dari cukup untuk dapat dua tiket. Dua. Aku benar-benar tidak sabar. Juga tidak sabar berdiri lama-lama di sini. Aku melepas pandangan bosan ke sekitar tepat ketika aku mendapati Kak Panji berdiri juga di sini. Ia tidak melihatku, tapi kemudian ia seolah mengetahui aku sedang memandangnya.

            “Ke mana?” tanyanya.
Aku hanya tersenyum. Ia berkerut heran.
            “Makan malamnya menyenangkan ya?” nadanya seolah bertanya pada diri sendiri.
Aku kembali memandang ke depan, ke deretan butik-butik di seberang.
Aku mengangguk, “Lumayan.”
            “Baguslah…” lalu ia melangkah pergi begitu saja. Aku ingin mengatakan bahwa busnya belum tiba, namun kutahan. Ia memang orangnya seperti itu. Dingin dan aneh. Kadang ia bersikap ramah dan menyenangkan seperti ketika kami di Bandung itu lalu ia berubah saat kembali ke kota. Ia memang berbeda dengan saudaranya, Laskar.
Dua menit kemudian, busku datang. Aku naik dan melihat Kak Panji yang masih di trotoar lewat kaca jendela bus. Aku tak habis fikir apa yang ada di dalam diriku sekarang bahkan sejak lama.



(8 Juni 2016)


sumber gambar favim.com

0 komentar:

Posting Komentar

luvne.com luvne.com ayeey.com cicicookies.com mbepp.com kumpulanrumusnya.comnya.com.com