-4-
Aku
tak tahu siapa saja yang membicarakanku dalam tertawaan mereka. Yang
memperhatikan bengong-nya aku di depan sini. Aku bahkan mulai tak peduli. Aku
sudah duduk di depan kantor utama fakultas sejak beberapa jam lalu. Tidak ada kelas
dan tidak ada ide untuk melakukan sesuatu hal. Pak Peci baru menyindirku meski
kalimatnya tidak terang-terangan. Ia bilang. “Jadi hari ini dua pembeli tetap
setia, kan?” Walaupun ia bertanya dengan guratan senyum, aku tahu ia berat hati
menahanku di toko tempat ia menjual alat-alat rumah tangga. Bukan hanya aku
yang di sana. Aku hanya salah satunya yang keluyuran menawarkan peralatan itu
di pinggir-pinggir jalan. Kadang Pak Peci juga menyuruhku menyebar brosur
tempat kursus adik lelakinya dan aku cukup dengan mendapatkan dua murid baru.
Sebenarnya ia nyaris memecatku sehari sebelumnya, tapi aku memaksanya untuk
jangan sekarang. Aku sedang mengumpulkan beberapa rupiah lagi, sebentar lagi…
Tepat
dua jam lebih empat puluh lima menit aku duduk tercenung, Minnie membuatku
lebih buruk dengan datang memelukku dan tertawa tak jelas. Ia sudah sembuh dari
sakitnya dan aku mengeluarkan oleh-oleh sekalipun ia sudah punya barang sejenis
itu di kamarnya, jam meja. Namun kali ini berbentuk Minnie Mouse dengan pita
merah jambu dan ada ukiran namanya di bawah angkat dua belas.
“Ini nih yang bikin seneng temenan
sama kamu, ngeliatin kamu bengong terus aku dapat sesuatu,” Minnie tertawa.
Itu
tidak lucu.
“Eh, katanya kamu ketemu Panji di sana. Gimana bisa?”
“Eh?” aku tak mendengar ucapannya
barusan. Aku tidak tahu kenapa kepalaku rasanya penuh.
“Panji… Rambut gondrongnya tahun
lalu udah dipendekin kan?” Minnie melihatku dengan menggoda. Aku memasang wajah
polos. Aku tak memperhatikan orang itu kemarin, karena aku tidak berharap.
Aku
mengangkat bahu sejurus ketika Kak Gunung menyodorkan seikat kertas di
hadapanku. Ia nyengir jelek. “Semester empat ya? Bagi ke temen-temenmu dan
semua yang kamu temui di jalan. Kata Laskar, lue bakal bantu kita banget,” ia
nyengir lagi.
Seketika
dadaku dingin lalu keringatku panas. Kak Laskar masih bisa mengingatku. Ia
masih percaya padaku. Sesepelenya undangan ini dan tak pedulinya aku tentang
acara apalah ini, yang terpenting Kak Laskar memeperhatikanku.
Aku
langsung berdiri dan menyambut segepok kertas itu. Kak Gunung kemudian
menyerahi yang lainnya dalam kantung plastik. “Se…banyak itu…?” tanyaku.
Leherku seperti terjepit melihatnya.
Kak
Gunung mengangguk. “Ya, harus segitu. Anyway, thanks yaa mau bantuin
kita,” ia nyengir lagi sebelum benar-benar hilang dari depan kantor utama.
“Ini ngerjain. Bukan minta tolong.”
“Ini pertolongan,” timpalku.
“Sekarang apa? Demi Laskar? Lue kan
pemalu, lebih dari kucing. Oh, diem lue. Aku minta bantuan ke yang lain,”
Minnie tiba-tiba bisa berlari cepat lebih dari runnerman yang pernah aku lihat di film. Dalam beberapa
waktu, Minnie sudah membagi isi kantung plastik kepada yang lain untuk
diestafetkan. Ini yang buat aku senang mempunyai teman seperti Minnie. Urusanku
selesai.
Setidaknya
itu yang aku tahu sekarang. Ia tidak pernah memandangku dengan embel-embel lain
selain aku hanya seorang anak manusia yang sama seperti sewajarnya. Ia tak
menyinggungku tentang sesuatu. Apa yang ia tahu, ia ketahuinya sendiri.
Menurutnya, aku dan ia sama saja. Aku tidak pernah menyalahkannya kenapa suatu
hari ia harus membelaku, jika ia pernah melakukannya. Sisanya aku berusaha
sendiri dengan diam atas diriku dan omongan yang lain. Selain Minnie,
keluargaku sekarang adalah yang terbaik. Aku tidak tahu bagaimana mengucapkan terima
kasih kepada mereka karena menyayangiku.
Dua
hari setelah hari itu, kak Laskar menelfonku. Kami tidak membicarakan sesuatu
yang penting. Namun aku tak merasa ini hanya basa-basi. Aku tahu bagaimana
seriusnya ia dengan perkataannya meski aku tak dekat untuk mengenalnya.
Undangan kemarin memang sudah disebar habis, dan penontonnya cukup berdesakkan.
Aku sengaja tak datang untuk menonton
pentas berdonasi itu karena kak Laskar hanya di belakang layar dan ia
tidak bisa melihatku. Tapi aku ke sana ketika acara selesai. Aku
memperhatikannya dari jauh. Naifnya aku. Aku tak pernah melakukan ini.
Segalanya seperti tidak mungkin. Kenapa hidupku penuh dengan kata ‘tidak’?
Tidak,
tidak. Aku baik-baik saja. Jadi siang hari aku keluar seperti biasa. Ketika aku
sampai di depan pintu, aku melihat kakaku, Dieng. Kami hampir sebaya. Anak
laki-laki yang normal, tapi ia kemudian kehilangan keceriaan masa kecil
denganku. Ia seperti berubah menjadi dirinya yang dewasa sampai aku sendiri
meragukannya. Bisa dibilang aku anak nomor dua keluarga ini dan kakak lelakiku
benar-benar melupakanku.
“Kemana?” tanyanya setelah membuka
sepatu. Aku nyaris keluar dari teras rumah.
“Pergi ke toko. Nanti aku pulang
setelah magrib, bilang Ibu ya…”
Ia
diam memandangku, namun aku tahu ia akan mengatakannya seandainya Ibu bertanya
tentangku. Setidaknya kakakku masih mengatakan sesuatu padaku meski kami masih
saling diam dingin.
Aku
pergi ke toko Pak Peci tapi beliau memberiku tugas lain. Sayangnya, aku tidak
pandai menarik perhatian orang lain dan ini payah. Lebih baik jika waktu itu
aku mendaftar ini kafe atau warung pecel. Hanya butuh senyuman. Aku gemetar
sepanjang jalan dan benar-benar ragu untuk menghampiri orang-orang. Aku harus
mengatakan apa pada calon pelanggan? Sekarang pak Peci menjualkan mukena ke
rumah-rumah. Segala hal sepertinya ingin beliau jualkan. Aku tahu bagaimana
kegigihan seorang pengusaha, namun aku baru bertemu orang seperti ini seumur
hidupku. Dan lagi aku tidak pandai mengarang. Haruskan aku karang-karang?
Dua
mukena sudah ada di depan seorang ibu dan ia meragukanku. Aku hanya bilang ia
akan segera membutuhkannya selagi harganya masih lebih murah. Salahnya aku tak
tahu harga umum, ia menolakku. Setidanya angka dua bisa menyelamatkanku dari
PHK toko rintisan itu. Hari nyaris sore. Matahari turun dan aku memilih duduk
istirahat. Ada tiga panggilan dari ibu dan satu dari kak Dieng. Kakak masih
memedulikanku.
“Rum?”
Aku
mendongak menemukan Kak Panji dengan rambut berantakan di depanku. Tiba-tiba
aku merasa gugup. Kupeluk erat kantung barang di perutku.
“Lagi apa di sini? Sendirian…”
Aku
berdiri dan ia melangkah mundur. “Ngga lagi apa-apa kok. Cuma… lagi nawarin
barang ke orang-orang.”
“Kamu jualan?” matanya membulat.
Aku
mengangguk.
“Kamu? Aku tahu keluargamu, kenapa
kamu masih jualan?”
Rasanya
aku sendiri yang merasa heran padanya. Apa yang ada difikirannya. Aku tanya, “Apa
dilarang?”
“Ng-ngga. Maksudku itu permulaan
yang bagus,” Kak Panji menunduk mengalihkan pandangannya entah kepada apa.
“Sudah laku berapa?”
Aku
mengigit bibir bawahnya. Payah. Kenapa ia harus bertanya soal itu. Aku bergerak
refleks karena ini terlalu kaku. “Belum ada.” Sepertinya pipiku mulai merah
malu.
“Apa kamu masih mau nerusin jualan?
Ini udah sore.”
Aku
tertampar mengingatnya. Tapi aku belum bisa pulang. Aku menggeleng kemudian,
“Ngga. Belum. Aku selesaiin dulu ya…” cepat-cepat aku berlari darinya untuk
terlihat buru-buru.
“Sebentar, Rum,” tahannya.
Aku
memutar badan.
“Aku baru terfikir sesuatu. Ayo ikut
aku,” tiba-tiba ia sudah menuju arah lain. Aku ragu-ragu namun memutuskan untuk
mengekornya ke suatu tempat.
Aku
memang tidak harus begini, tapi aku merasa enggan meminta uang pada Ibu untuk
membeli tiket nonton festival Asia Tenggara minggu depan di gelora besar kota. Aku
benar-benar tak sabar datang melihat pameran kebudayaan dari negara-negara
ASEAN. Ini kesempatan bagus karena Ibu tak mengizinkanku seperti Kak Dieng yang
bisa ke luar kota dengan teman-temannya. Aku mendengar beritanya sejak bulan
lalu, jadi aku punya waktu cukup untuk mengumpulkan koin-koin demi dapat dua
helai tiket. Uang jajanku sebulan masih kurang untuk rencana ini. tapi Ibu tak
boleh tahu.
“ASEAN Tour Festival itu? Ya ampun,
Harum…”
“Memangnya aku terlalu norak ya?”
dua alisku naik mendangar tanggapan Kak Panji.
“Ngga kok. Oh, kita udah sampai,”
Kak Panji agak merunduk membisikkan sesuatu. “Nah, lihat cewek-cewek itu?
Mereka pasti bakal beli mukenamu. Sana…” ia mendorong pundakku ke arah gerbang
gapura indekos.
“Eh?! Masak bisa begitu?”
Tidak
ada jawaban. Ia hanya mengangkat dagunya menyuruhku cepat-cepat jalan. Akhirnya
aku tak benar-benar yakin, namun ketika aku baru beberapa langkah, mereka
langsung memanggilku dan mendatangiku.
“Mau nawarin mukena kan? Aku ambil
satu dong,” serobot seorang dari mereka lalu satu-satu memilih apa yang aku
bawa. Anehnya aku tak perlu berkata banyak tiba-tiba barang yang dibawakan Pak
Peci sudah habis. Di tanganku tinggal berlembar-lembar uang kertas.
“Makasih… Harum…”
Aku
terkejut. Bagaimana ia tahu namaku? Lekas aku turun dari teras sana kembali
menemui Kak Panji di luar pagar. Ia sedang bersandar di ujung gerbang.
“Bagaimana Kak Panji tahu mereka
bakal beli?”
Ia
hanya mengangkat bahu lalu berjalan pergi. Ia tak langsung pulang ke rumah
melainkan ikut denganku ke toko Pak Peci. Seperti melihat anak ayam menetas
ketika aku melihat raut wajah Pak Peci menerima kabarku. Ia sangat senang, tapi
aku cepat mengatakan sesuatu padanya. Aku mengundurkan diri. Aku tahu betapa
buruknya pekerjaanku selama tiga minggu terakhir ini. Di hari terakhir aku
memang ingin menyelesaikannya dengan baik dan aku melakukannya.
“Aku agak berat hati dengan
keputusanmu, tapi kamu kelihatannya yakin. Aku cuma bisa bilang makasih. Jangan
lupa mampir ke sini ya,” ia mengelus-elus peci bulatnya. Aku mengangguk. Ketika
aku menengok Kak Panji di belakangku, aku melihatnya tersenyum. Kufikir ia
memang aneh.
-5-
“Apa? Makan malam?” aku nyaris
berteriak di depan telefon genggamku. Kak Laskar ingin mengucapkan terima kasih
dengan mengajakku makan malam. Ini keajaiban. Jadi aku memilih setelan yang
pantas. Setelah sore aku keluar rumah lebih dulu melihat Kak Dieng belum pulang
dan Ara—adik laki-lakiku yang baru tujuh tahun—masih meneruskan tidur siangnya.
Kafe
yang dipilihnya di perempatan yang gayanya sangat cozy. Dindingnya hanya
didominasi warna hitam, silver, dan abu-abu yang mengilap. Ada rak buku di
jendela kacanya. Aku selalu memandang kafe itu dari seberang jalan ketika aku
pulang. Aku pernah membujuk Minnie untuk menemaniku ke sana, tapi ia tidak sempat.
Aku
pergi ke rumah Minnie dulu untuk mengabarinya berita bagus ini. Sayangnya ia
tampak murung mendengar itu. Aku berusaha keras membuang fikiran burukku
padanya. Mungkin suasana hatinya sedang jelek. Dengan menunggu Minnie mandi,
berkali-kali aku melihat keluar lewat jendela kamar Minnie di mana jalanan
kecil beberapa kali dilewati anak-anak bersepeda sore. Rasanya tidak sabar
lagi. Jam tujuh, Minnie mengantarku ke pinggir jalan kafe itu lalu ia buru-buru
pergi ke rumah sepupunya yang menggelar pesta pernikahan. Dalam dadaku makin
gugup.
Ketika
aku masuk, Kak Laskar sudah duduk di sana. Ia lebih dulu mengirimkan nomor
mejanya. Aku bersikap semanis mungkin. Benar. Aku tak berani bicara
banyak-banyak, namun menjaga kestabilan frekuensi senyum.
“Aku minta maaf kalo aku pernah
salah paham sama kamu…”
“Nggak kok,” aku memotong
kalimatnya. Ini buruk. Jangan diulangi.
“Aku juga mau terima kasih atas
semua bantuanmu dan semuanya yang kamu lakuin ke aku…”
Aku
terlambat mengangguk. “Ya.”
“Kamu itu baik banget. Eh, jangan
berhenti makan. Kita udah pesen, kan mubazir,” lalu ia meneruskan makannya. Aku
mengunyah lambat.
Kami
terdiam beberapa waktu dan kufikir ini menegangkan. Jemariku jadi kaku.
“Rum, aku…”
Aku
cepat-cepat menghentikan semuanya. Gerakan dan semua fikiranku yang
terbang-terbang. Aku siap mendengarkan apa pun kata-katanya.
“Rum, aku ditelfon ketua. Mereka ada
rapat. Aku duluan ya. Soalnya udah pada ngumpul,” Kak Laskar mengenakan
jaketnya dan bergegas memberesi barang-barang di meja. Aku terlongo ketika ia
melangkah pergi ke pintu keluar. Ia tak mengatakan apa-apa selain itu tadi.
Maksudku, ia tak membayarkan makan malam ini. Ketika aku berdiri untuk
melihatnya dari jendela kaca yang bening, seorang pelayan menghampiriku dan
menyerahi harga makan malam ini.
“Temanku lupa membayarnya dan ia
ditelfon buat segera rapat. Bagaimana kalo aku tinggalin kartu identitas dan
ponselku sebagai jaminan. Aku balik besok pagi,” kataku kepada kepala
pimpinannya. Mereka langsung menyimpan barangku setelah kukeluarkan dari tas. Aku
harus melakukan itu karena uangku tidak cukup melunasinya.
Tak
menunggu lama, aku keluar dari sana. Dan menyandarkan punggungku di dinding
batu kafe ini. Di luar dingin. Baru saja turun gerimis dan membuat jalanan
lembab. Aku diam di sana beberapa saat lalu memutuskan pulang sendiri. Aku
takut Ibu marah padaku. Fikiranku kacau.
“Harum!”
Aku
mendengar suara jengkel itu. Kuangkat kepalaku untuk melihatnya. Kak Dieng.
Tampak di pandanganku bahwa matanya menyorot tajam dan penuh amarah untuk
memukuliku. Ah, aku berlebihan. Ia berjalan ke arahku dengan bibir yang
mengatup rapat.
“Aku ngga suka ya kamu pergi-pergi
gini. Repot nyarinya. Mana Ibu selalu nyuruh aku merhatiin kamu. Suruh jagain
kamu. Ngga paham ya?” ia menarik sebelah daun telingaku yang tak tertutup
rambut. Aku berjengit. Aku tidak kecil lagi seperti waktu itu aku mencuri kotak
music dari kamarnya, tapi ia masih melakukan hal ini.
Telingaku
memang tidak merah, mungkin sedikit bekasnya. Namun aku tersenyum. Ia
memandangku heran. “Makasih udah jemput aku. Aku dari pesta pernikahan
sepupunya Minnie kok.” Ya ampun aku baru berbohong.
“Aku nggak peduli,” ia berjalan
pulang. Lekas aku memburunya dari belakang.
-6-
Aku
menyuruh Minnie menutup mulutnya karena cerewet bertanya tentang Kak Laskar
yang tiba-tiba pulang duluan. Pagi ini aku datang menukar barang-barangku
dengan bayaran sebenarnya. Di layar telefon genggam ada duapuluh satu panggilan
termasuk dari Ibu, Kak Dieng, Minnie, panggilan rumah, Kak Laskar dan sebaris
nomor asing. Aku menyelipkan ponselku ke kantung dan menyeret Minnie keluar dari
sana. Anggap saja ini pemanasan. Kak Laskar akan minta maaf soal kemarin malam.
Sejujurnya aku berfikir seperti itu.
Aku
berdiri di halte menunggu bus yang mengantar ke loket pembelian tiket festival
itu sementara Minnie punya ujian susulan. Uangku lebih dari cukup untuk dapat
dua tiket. Dua. Aku benar-benar tidak sabar. Juga tidak sabar berdiri lama-lama
di sini. Aku melepas pandangan bosan ke sekitar tepat ketika aku mendapati Kak
Panji berdiri juga di sini. Ia tidak melihatku, tapi kemudian ia seolah
mengetahui aku sedang memandangnya.
“Ke mana?” tanyanya.
Aku
hanya tersenyum. Ia berkerut heran.
“Makan malamnya menyenangkan ya?”
nadanya seolah bertanya pada diri sendiri.
Aku
kembali memandang ke depan, ke deretan butik-butik di seberang.
Aku
mengangguk, “Lumayan.”
“Baguslah…” lalu ia melangkah pergi
begitu saja. Aku ingin mengatakan bahwa busnya belum tiba, namun kutahan. Ia
memang orangnya seperti itu. Dingin dan aneh. Kadang ia bersikap ramah dan
menyenangkan seperti ketika kami di Bandung itu lalu ia berubah saat kembali ke
kota. Ia memang berbeda dengan saudaranya, Laskar.
Dua
menit kemudian, busku datang. Aku naik dan melihat Kak Panji yang masih di
trotoar lewat kaca jendela bus. Aku tak habis fikir apa yang ada di dalam
diriku sekarang bahkan sejak lama.
(8 Juni 2016)
sumber gambar favim.com


0 komentar:
Posting Komentar