-1-
Perjalanan ini akan mengambil waktu
sepanjang malam dari Surabaya ke Bandung. Aku tak tahu alasan paling tepat
kenapa kemudian dosenku memilih sebuah kota kecil di Bandung yang memiliki
usaha perikanan bagus untuk kami kunjungi. Dua bus untuk dua kelas di mata
kuliah ini. Aku fikir, bangku di bus-bus tak benar-benar penuh. Masing-masing
punya tempat pilihan sendiri, dan aku bersama Minnie memutuskan sebuah bangku
di bagian tengah. Sayangnya, hari ini Minnie sakit. Aku duduk sendiri ketika
bus berangkat setelah sore tiba.
Aku selalu merasa gelisah tiap kali
punya perjalanan jauh dalam mobil. Bekalku cukup: keripik kentang, roti basah,
air mineral, air jus kemasan, obat masuk angin, dan bahkan obat merah. Mataku
terus nanar memandang luar sepanjang jalan lewat jendela kaca. Lampu-lampu di
pinggir jalan tampaknya luar biasa dan berkesan, tapi aku tak suka warna hitam.
Berkali-kali aku menghela napas sehingga menimbulkan uap di kaca mobil. Malam
di musim penghujan ini dingin sekalipun tak ada air yang turun.
Yang tak kusuka selanjutnya adalah
waktu tidurku. Aku sungguh tak yakin bisa lelap jika terpejam di dalam
kendaraan. Mungkin aku menutup rapat dua mataku, namun sel otakku menyala
terang bahkan aku punya banyak gagasan selama berpura-pura tidur. Bus
baru berhenti sejenak mendapati macet beberapa detik di jalan. Aku
menyembunyikan dua tanganku di sebuah jaket bebas yang kutangkupkan di depan
tubuhku. Jadi, totalnya aku mengenakan dua jaket. Tak ada yang berkomentar. Aku
akan mendengar semua percakapan kecil sampai suara dengkuran. Aku tak pernah
bisa tertidur.
Wah, hebat! Itu hanya tebakanku.
Kenyataannya aku merasa tak sadar setelah pukul sebelas dan aku terbangun jam 2
ketika kepalaku terguling ke bangku kosongnya Minnie. Tapi ada seorang di sana.
Aku terantuk sudut pundaknya. Kurasa ia manusia yang tinggi. Aku tak cukup
sadar ketika membalikkan badan memunggunginya. Sungguhan ada orang lain di
sebelahku. Sepenangkapan inderaku ia… laki-laki. Oh, tidak! Kenapa?! Aku
menarik ujung jaket dan menutup seluruh wajahku. Sejak kapan ada teman sebangku
di sebelahku? Kali ini aku tak mencoba tidur sedetik pun. Akan kupastikan hal
ini.
Sesaat ponselku berbunyi dan aku
khawatir mengganggu yang lain. Tanganku menelisik cepat ke kantung jaket yang
kupakai. Dengan setengah sadar dan mata yang separuh terbuka aku menekan tombol jawab.
“Hm…” gumamku. Adikku, Ara suka sekali berlaku iseng. Tak ia pernah
membuka percakapan telefon dengan salam atau halo, jadi sering ia ditegur Ibu.
Sehingga sah saja kan ketika aku mau menjawab dengan seenakku.
“Aku hanya mau duduk di sini. Sumpah
aku ngga bakal ngapa-ngapain selain duduk. Aku punya insomnia sejak semester
akhir, jadi aku ngga bakal tidur juga…”
Jantungku mencelos. Suaranya
mengganda. Di sambungan telefon dan di sebelahku. Leherku secara lamban menoleh
dan seorang di sebelahku mengacungkan ponselnya. Kurasa aku baru saja
mengguratkan raut tak senang dengan kejutan, apa pun itu. Kulungsurkan kembali
ponselku ke saku jaket dan berpaling darinya. Ini tak lucu. Aku mendengar
seluruh gerutuku dalam hati. Bus ini berhenti di tempat pengisian bahan bakar.
Lampu-lampu di dinding itu hidup dengan terang mengalahkan daya mataku yang
meremang. Aih! Aku ingat sesuatu. Bagaimana… “Hei!” aku memutar kepala ke
bangku sebelah yang mendadak kosong. Aku baru berniat menanyakan bagaimana ia
punya nomorku.
Beberapa teman lain turun untuk ke
kamar kecil atau membeli beberapa camilan ringan. Dua pundakku melorot. Setelah
aku mengingat sekilas wajahnya, aku tak berhasil mengingat sedikit pun. Bulu
kudukku berdiri. Ada aliran dingin yang merambat di bawah kulit dan membuat
wujud aneh di pori-pori seluruh kulitku. Aku membenarkan posisi jaket selimutku
tadi yang sempat jatuh. Setelah beberapa menit bus ini melaju, orang tadi tak
kembali.
-2-
Jangka waktu kami di sini hanya sehari selama periode terang
bercahaya, maksudku kami akan kembali setelah sore hari nanti. Dosenku ini
tampak bergairah mengenalkan apa-apa yang ada di tambak ikan mas milik seorang
bapak yang ternyata adalah teman kuliahnya dulu. Aku nyaris menepuk jidat.
Tentu saja ia ingin mengunjungi teman satu kosannya itu. Lalu kami
masing-masing berpencar mengelilingi tempat ini, dan aku tak tahu harus pergi
dengan siapa. Yang kutahu aku hanya bisa membuntuti dosenku dan empat mahasiswa
yang mendengarkan penjelasannya.
“Rum, ini pegang sebentar ya…”
Dan… ya, menjadi tukang bantu-bantu memegang tali, plastik air,
seikat ikan, buku mereka, atau memotret gambar mereka bersama ikan dan
kolamnya. Bagus. Aku juga bolak-balik mengusung ember berisi ikan-ikan. Kesempatan
langka, mereka sedang memanen ikan dan sepertinya ini sangat dimanfaatkan
dosenku. Aku menenteng empat kali dan berniat menyerah untuk yang kelima saat
seorang merebut ember itu dengan dalih akan memasak ikan didalamnya. Buku dan
penaku jatuh. Aku mengambil buku dan mengabaikan di mana keberadaan alat
menulis itu lagipula aku punya beberapa di dalam tas.
Aku berbalik untuk pergi ke rumah utama, mungkin seorang tengah
memasak sesuatu. Aku lapar sekali. Tadi sarapanku diminta setengah oleh teman lelaki
dari kelas sebelah. Aku tak heran, bahkan badannya juga lebih berbobot dariku.
“Hei, penamu.”
Oh, ya. Aku juga tak nyaman ketika seorang menghalangi jalanku
dengan panggilan dari balik punggungku. Aku menengoknya. Tepat! Laki-laki
semalam mengacungkan pena milikku. “Ambil aja.” Aku bersumpah tak akan
mengambilnya. Ubun-ubunku rasanya mendidih. Jujur, meski ini musim hujan,
matahari membulat panas di lautan langit yang disapu awan kelabu membuat udara
terasa tak sehat.
Aku akhirnya duduk membaris bersama ibu-ibu dan beberapa pekerja di
tambak yang siap menonton lomba mengumpulkan panenan ikan di bak besar.
Pesertanya mahasiswa laki-laki, dan oh baiklah… aku sudah mengira kaos mereka
akan kotor oleh air keruh dan sedikit lumpur. Lalu mataku menangkap seorang
yang berbadan tinggi di sudut kolam dengan kepala diikat sebuah bandana.
Aneh, aku seperti pernah melihatnya. Ibu-ibu di sebelahku mendadak menjerit
histeris sambil menunjuk-nunjuk di mana seekor ikan bergeliat. Tak sadar peluit
sudah terpekik dan perlombaan dimulai. Ini keren. Suasana ricuh sementara aku
duduk mematung memeluk bukuku.
Di tengah acara ini, seorang ibu membawa sebuah ember berisi ikan
besar. Aku tahu ia akan membuat makan siang untuk kami. Maka aku melarikan diri
dari sini mengekor ibu itu dan meminta embernya untuk kubawakan. Ia bertanya,
kira-kira masakan apa yang kami suka. “Ah… Kami bukan orang yang pilih-pilih
asal kami ada nasi,” kataku nyaris tersenyum. Aku tak sengaja, hanya wajah ibu
ini seolah membiusku untuk tersenyum.
Aku duduk di teras belakang dapur dengan ibu tadi. Aku tak pandai
membersihkan sisik ikan, jadi aku hanya melihat. Dan payah soal masak-memasak,
jadi aku cuma menonton. Aih, kenapa aku seorang perempuan kalau begini? Ibu ini
tersenyum menanggapiku. Ia bahkan menyarankanku mengingat apa yang baru ia
kerjakan. Aku mencatatnya. Serius, kubuat catatan di buku ini. Dosenku bilang
aku harus mencatat hal penting, dan ibu ini bilang masak adalah hal penting.
Baiklah, aku setuju.
Bau-bau memenuhi udara sekitarku. Wangi. Air kuah di dalam wajan
besar ini meletup-letup pecah. Warna kuahnya membuatku melelehkan air liur.
Kebiasaan ketika di rumah, aku sering memaksa Ibuku untuk membolehkanku
mencicipi masakannya. Aku tak melakukannya di sini.
“Harum, ayo bakar ikan!” aku menoleh ke arah pagar kecil di rumah
bagian belakang. Laki-laki dengan kepala terikat bandana dan kaos basah yang
kotor menunjukkan dua ekor ikan sebesar telapak kaki raksasa. Aku tak pernah
melihat raksasa, tapi ya seperti itu. Aku tak membual. Dua ikan itu sungguh
lebar dan aku tak yakin pernah melihatnya.
Aku bangkit dari dudukku di kursi kecil. “Aku lebih suka ikan
pepes.” Ah, aku tak sadar, aku baru saja menolaknya. Seketika tampang kecewa
terjiplak di wajahnya. Ia terdiam.
“Kalau gitu, ayo kita buat pepes ikan,” sahut ibu tadi di
sebelahku. Ia melambaikan tangan pada laki-laki itu. “Ibu nyari daun dulu,”
katanya sambil menerima dua ekor ikan dari laki-laki ini.
“Aku aja yang nyari,” timpalnya kemudian menghilang.
Aku dan ibu ini saling pandang dan ia memberiku isyarat untuk
meracik bumbunya.
“Ibu kenal dosenku Pak Ben?”
“He.em. Dia sering datang kalau ada hari libur. Seperti saudara.
Waktu kami kekurangan modal karena gagal panen, dia membantu kami. Kami saling
kenal baik,” ibu ini membuka tutup panci. Uapnya mengepul tinggi dan lenyap di
langit-langit teras secara perlahan.
-3-
Aku bisa tertawa sekarang. Bumbu olahanku tak buruk sama sekali. Makan
siang lewat satu setengah jam yang lalu. Kepalaku berkunang-kunang menunggunya.
Sekarang aku duduk di tempat makan sederhana dengan gaya pedesaan Sunda tak
jauh dari tambak ikan tadi. Rumah makan ini masih milik orang yang sama. Ada
alunan khas Sunda yang menyebar di sekitar sini. Teman-temanku tadi selesai
lebih dulu karena mengambil makan siang lebih dulu. Mereka menelantarkan duri
dan tulangnya di atas meja.
“Kayaknya kamu anak aneh. Di mana-mana selalu sendiri,” laki-laki
itu muncul lagi di depanku, di seberang meja. Ujung rambutnya basah. Beruntung
aku tak punya keinginan untuk memborgol dan menginterogasinya habis-habisan.
Ia duduk membuka daun pisang pembungkus ikan pepes. Ibu tadi sudah
memotong tubuh ikan itu sesuai porsi wajar. Ia tak melihatku, tapi aku seperti
pernah mengetahui namanya. “Kak Panji, kenapa di sini?”
“Hm… Ikut jalan-jalan doang.”
Oh, benar. Tapi entah Panji yang keberapa. Ada banyak Panji di
kampus. Dan aku tak pernah mengenal satu pun dari mereka. Tak peduli wajah
mereka. “Kok Kak Panji tau nomorku?”
“Kenapa aku ngga boleh tau? Oh, anyway, kamu yang buat bumbu
pepesnya? Enak tau. Ya, asin dikit sih.”
“Hantu!”
“Hah?”
“Oh ya, dan aku bukannya anti sosial. Teman sebangkuku lagi sakit,
dan temanku yang lain pergi mandi.”
Panji mendorong piring sisa ikannya. Ternyata ia tak makan nasi
siang ini. Ia selesai dengan sebungkus pepes. “Aku ngga bilang kamu anti
sosial. Tapi, dengan kamu sendiri, keliatannya orang lain mudah masuk mengambil
kesempatanmu.”
“Kesem…”
“Hm, kesempatan. Mungkin Laskar bisa menangin hatimu, tapi aku
barusan ngalahin dia karena dia ngga pernah makan pepesmu dan makan siang bareng
kamu kayak gini. Jadi dia ngga pinter ngambil kesempatanmu, kan?”
Dua lututku membeku. Ia tepat menatapku sampai ke dasar
penglihatanku. Mungkin detik ini ia berhasil mengorek semua isi kepalaku di
mana nama Laskar tetap teronggok berdebu karena kubiarkan ada walau aku tak
dilihatnya sebentar. Kemarin aku baru membenahi tumpukan fikiranku yang sempat
kacau dengan melihat orang itu datang ke halaman kampus. Dan sekarang… aku tahu
orang ini. Panji adalah saudara kembar Laskar. Mereka tidak identik dengan kepribadian
yang tak sama. Kalau Laskar suka martabak telor, Panji membencinya―katanya
amis. Kalau Panji suka jalan-jalan, Laskar hanya akan di dalam kamar menonton
film atau bermain game. Kalau Panji suka gaya simpel, Laskar memilih
yang lebih ribet. Kalau Laskar suka cewek jenis itu, Panji suka yang
sebaliknya. Kalau Laskar tak suka dengan cewek ini, maka Panji akan
menyukainya. Kalau Laskar tak suka denganku, itu artinya…
Aku menggigit jari telunjukku yang menyisakan rasa garam dan
rempah. Isyarat ini pasti berbohong. Namun aku tak bisa membuat alasan kenapa
Panji punya nomorku. Ia bahkan bisa berkata langsung denganku di dalam bus
kemarin. Ia tak mungkin menamainya di kontak ponselnya tanpa sebab penting
karena antara kami tak ada urusan kampus atau di kegiatan luar kampus. Lagipula
dua saudara itu akan wisuda tahun ini.
“Mungkin Laskar bisa menangin hatimu, tapi aku barusan ngalahin dia
karena dia ngga pernah makan pepesmu dan makan siang bareng kamu kayak gini.
Jadi dia ngga pinter ngambil kesempatanmu, kan?”
Laskar tak mungkin melakukan hal itu pada gadis kuper sepertiku
yang tidak pernah tampak di umum. Belakangan aku sering menertawakan diriku
sendiri yang bodoh sekalipun aku tahu kepribadianku dan Laskar bertolak
belakang dan aku tetap menyukainya diam-diam.
“Hei, mereka mau mampir ke Cihampelas,” Panji menggerakkan
kepalanya.
(13
Oktober 2015)
sumber gambar www.freewhd.com
sumber gambar www.freewhd.com


0 komentar:
Posting Komentar