30 Oktober 2015

12 Ikat Peony (1)






            -1-
            Perjalanan ini akan mengambil waktu sepanjang malam dari Surabaya ke Bandung. Aku tak tahu alasan paling tepat kenapa kemudian dosenku memilih sebuah kota kecil di Bandung yang memiliki usaha perikanan bagus untuk kami kunjungi. Dua bus untuk dua kelas di mata kuliah ini. Aku fikir, bangku di bus-bus tak benar-benar penuh. Masing-masing punya tempat pilihan sendiri, dan aku bersama Minnie memutuskan sebuah bangku di bagian tengah. Sayangnya, hari ini Minnie sakit. Aku duduk sendiri ketika bus berangkat setelah sore tiba.
            Aku selalu merasa gelisah tiap kali punya perjalanan jauh dalam mobil. Bekalku cukup: keripik kentang, roti basah, air mineral, air jus kemasan, obat masuk angin, dan bahkan obat merah. Mataku terus nanar memandang luar sepanjang jalan lewat jendela kaca. Lampu-lampu di pinggir jalan tampaknya luar biasa dan berkesan, tapi aku tak suka warna hitam. Berkali-kali aku menghela napas sehingga menimbulkan uap di kaca mobil. Malam di musim penghujan ini dingin sekalipun tak ada air yang turun.
            Yang tak kusuka selanjutnya adalah waktu tidurku. Aku sungguh tak yakin bisa lelap jika terpejam di dalam kendaraan. Mungkin aku menutup rapat dua mataku, namun sel otakku menyala terang bahkan aku punya banyak gagasan selama berpura-pura tidur. Bus baru berhenti sejenak mendapati macet beberapa detik di jalan. Aku menyembunyikan dua tanganku di sebuah jaket bebas yang kutangkupkan di depan tubuhku. Jadi, totalnya aku mengenakan dua jaket. Tak ada yang berkomentar. Aku akan mendengar semua percakapan kecil sampai suara dengkuran. Aku tak pernah bisa tertidur.
            Wah, hebat! Itu hanya tebakanku. Kenyataannya aku merasa tak sadar setelah pukul sebelas dan aku terbangun jam 2 ketika kepalaku terguling ke bangku kosongnya Minnie. Tapi ada seorang di sana. Aku terantuk sudut pundaknya. Kurasa ia manusia yang tinggi. Aku tak cukup sadar ketika membalikkan badan memunggunginya. Sungguhan ada orang lain di sebelahku. Sepenangkapan inderaku ia… laki-laki. Oh, tidak! Kenapa?! Aku menarik ujung jaket dan menutup seluruh wajahku. Sejak kapan ada teman sebangku di sebelahku? Kali ini aku tak mencoba tidur sedetik pun. Akan kupastikan hal ini.
            Sesaat ponselku berbunyi dan aku khawatir mengganggu yang lain. Tanganku menelisik cepat ke kantung jaket yang kupakai. Dengan setengah sadar dan mata yang separuh terbuka aku menekan tombol jawab.
            “Hm…” gumamku. Adikku, Ara suka sekali berlaku iseng. Tak ia pernah membuka percakapan telefon dengan salam atau halo, jadi sering ia ditegur Ibu. Sehingga sah saja kan ketika aku mau menjawab dengan seenakku.
            “Aku hanya mau duduk di sini. Sumpah aku ngga bakal ngapa-ngapain selain duduk. Aku punya insomnia sejak semester akhir, jadi aku ngga bakal tidur juga…”
            Jantungku mencelos. Suaranya mengganda. Di sambungan telefon dan di sebelahku. Leherku secara lamban menoleh dan seorang di sebelahku mengacungkan ponselnya. Kurasa aku baru saja mengguratkan raut tak senang dengan kejutan, apa pun itu. Kulungsurkan kembali ponselku ke saku jaket dan berpaling darinya. Ini tak lucu. Aku mendengar seluruh gerutuku dalam hati. Bus ini berhenti di tempat pengisian bahan bakar. Lampu-lampu di dinding itu hidup dengan terang mengalahkan daya mataku yang meremang. Aih! Aku ingat sesuatu. Bagaimana… “Hei!” aku memutar kepala ke bangku sebelah yang mendadak kosong. Aku baru berniat menanyakan bagaimana ia punya nomorku.
            Beberapa teman lain turun untuk ke kamar kecil atau membeli beberapa camilan ringan. Dua pundakku melorot. Setelah aku mengingat sekilas wajahnya, aku tak berhasil mengingat sedikit pun. Bulu kudukku berdiri. Ada aliran dingin yang merambat di bawah kulit dan membuat wujud aneh di pori-pori seluruh kulitku. Aku membenarkan posisi jaket selimutku tadi yang sempat jatuh. Setelah beberapa menit bus ini melaju, orang tadi tak kembali.

-2-
Jangka waktu kami di sini hanya sehari selama periode terang bercahaya, maksudku kami akan kembali setelah sore hari nanti. Dosenku ini tampak bergairah mengenalkan apa-apa yang ada di tambak ikan mas milik seorang bapak yang ternyata adalah teman kuliahnya dulu. Aku nyaris menepuk jidat. Tentu saja ia ingin mengunjungi teman satu kosannya itu. Lalu kami masing-masing berpencar mengelilingi tempat ini, dan aku tak tahu harus pergi dengan siapa. Yang kutahu aku hanya bisa membuntuti dosenku dan empat mahasiswa yang mendengarkan penjelasannya.
“Rum, ini pegang sebentar ya…”
Dan… ya, menjadi tukang bantu-bantu memegang tali, plastik air, seikat ikan, buku mereka, atau memotret gambar mereka bersama ikan dan kolamnya. Bagus. Aku juga bolak-balik mengusung ember berisi ikan-ikan. Kesempatan langka, mereka sedang memanen ikan dan sepertinya ini sangat dimanfaatkan dosenku. Aku menenteng empat kali dan berniat menyerah untuk yang kelima saat seorang merebut ember itu dengan dalih akan memasak ikan didalamnya. Buku dan penaku jatuh. Aku mengambil buku dan mengabaikan di mana keberadaan alat menulis itu lagipula aku punya beberapa di dalam tas.
Aku berbalik untuk pergi ke rumah utama, mungkin seorang tengah memasak sesuatu. Aku lapar sekali. Tadi sarapanku diminta setengah oleh teman lelaki dari kelas sebelah. Aku tak heran, bahkan badannya juga lebih berbobot dariku.
“Hei, penamu.”
Oh, ya. Aku juga tak nyaman ketika seorang menghalangi jalanku dengan panggilan dari balik punggungku. Aku menengoknya. Tepat! Laki-laki semalam mengacungkan pena milikku. “Ambil aja.” Aku bersumpah tak akan mengambilnya. Ubun-ubunku rasanya mendidih. Jujur, meski ini musim hujan, matahari membulat panas di lautan langit yang disapu awan kelabu membuat udara terasa tak sehat.
Aku akhirnya duduk membaris bersama ibu-ibu dan beberapa pekerja di tambak yang siap menonton lomba mengumpulkan panenan ikan di bak besar. Pesertanya mahasiswa laki-laki, dan oh baiklah… aku sudah mengira kaos mereka akan kotor oleh air keruh dan sedikit lumpur. Lalu mataku menangkap seorang yang berbadan tinggi di sudut kolam dengan kepala diikat sebuah bandana. Aneh, aku seperti pernah melihatnya. Ibu-ibu di sebelahku mendadak menjerit histeris sambil menunjuk-nunjuk di mana seekor ikan bergeliat. Tak sadar peluit sudah terpekik dan perlombaan dimulai. Ini keren. Suasana ricuh sementara aku duduk mematung memeluk bukuku.
Di tengah acara ini, seorang ibu membawa sebuah ember berisi ikan besar. Aku tahu ia akan membuat makan siang untuk kami. Maka aku melarikan diri dari sini mengekor ibu itu dan meminta embernya untuk kubawakan. Ia bertanya, kira-kira masakan apa yang kami suka. “Ah… Kami bukan orang yang pilih-pilih asal kami ada nasi,” kataku nyaris tersenyum. Aku tak sengaja, hanya wajah ibu ini seolah membiusku untuk tersenyum.
Aku duduk di teras belakang dapur dengan ibu tadi. Aku tak pandai membersihkan sisik ikan, jadi aku hanya melihat. Dan payah soal masak-memasak, jadi aku cuma menonton. Aih, kenapa aku seorang perempuan kalau begini? Ibu ini tersenyum menanggapiku. Ia bahkan menyarankanku mengingat apa yang baru ia kerjakan. Aku mencatatnya. Serius, kubuat catatan di buku ini. Dosenku bilang aku harus mencatat hal penting, dan ibu ini bilang masak adalah hal penting. Baiklah, aku setuju.
Bau-bau memenuhi udara sekitarku. Wangi. Air kuah di dalam wajan besar ini meletup-letup pecah. Warna kuahnya membuatku melelehkan air liur. Kebiasaan ketika di rumah, aku sering memaksa Ibuku untuk membolehkanku mencicipi masakannya. Aku tak melakukannya di sini.
“Harum, ayo bakar ikan!” aku menoleh ke arah pagar kecil di rumah bagian belakang. Laki-laki dengan kepala terikat bandana dan kaos basah yang kotor menunjukkan dua ekor ikan sebesar telapak kaki raksasa. Aku tak pernah melihat raksasa, tapi ya seperti itu. Aku tak membual. Dua ikan itu sungguh lebar dan aku tak yakin pernah melihatnya.
Aku bangkit dari dudukku di kursi kecil. “Aku lebih suka ikan pepes.” Ah, aku tak sadar, aku baru saja menolaknya. Seketika tampang kecewa terjiplak di wajahnya. Ia terdiam.
“Kalau gitu, ayo kita buat pepes ikan,” sahut ibu tadi di sebelahku. Ia melambaikan tangan pada laki-laki itu. “Ibu nyari daun dulu,” katanya sambil menerima dua ekor ikan dari laki-laki ini.
“Aku aja yang nyari,” timpalnya kemudian menghilang.
Aku dan ibu ini saling pandang dan ia memberiku isyarat untuk meracik bumbunya.
“Ibu kenal dosenku Pak Ben?”
“He.em. Dia sering datang kalau ada hari libur. Seperti saudara. Waktu kami kekurangan modal karena gagal panen, dia membantu kami. Kami saling kenal baik,” ibu ini membuka tutup panci. Uapnya mengepul tinggi dan lenyap di langit-langit teras secara perlahan.

-3-
Aku bisa tertawa sekarang. Bumbu olahanku tak buruk sama sekali. Makan siang lewat satu setengah jam yang lalu. Kepalaku berkunang-kunang menunggunya. Sekarang aku duduk di tempat makan sederhana dengan gaya pedesaan Sunda tak jauh dari tambak ikan tadi. Rumah makan ini masih milik orang yang sama. Ada alunan khas Sunda yang menyebar di sekitar sini. Teman-temanku tadi selesai lebih dulu karena mengambil makan siang lebih dulu. Mereka menelantarkan duri dan tulangnya di atas meja.
“Kayaknya kamu anak aneh. Di mana-mana selalu sendiri,” laki-laki itu muncul lagi di depanku, di seberang meja. Ujung rambutnya basah. Beruntung aku tak punya keinginan untuk memborgol dan menginterogasinya habis-habisan.
Ia duduk membuka daun pisang pembungkus ikan pepes. Ibu tadi sudah memotong tubuh ikan itu sesuai porsi wajar. Ia tak melihatku, tapi aku seperti pernah mengetahui namanya. “Kak Panji, kenapa di sini?”
“Hm… Ikut jalan-jalan doang.”
Oh, benar. Tapi entah Panji yang keberapa. Ada banyak Panji di kampus. Dan aku tak pernah mengenal satu pun dari mereka. Tak peduli wajah mereka. “Kok Kak Panji tau nomorku?”
“Kenapa aku ngga boleh tau? Oh, anyway, kamu yang buat bumbu pepesnya? Enak tau. Ya, asin dikit sih.”
“Hantu!”
“Hah?”
“Oh ya, dan aku bukannya anti sosial. Teman sebangkuku lagi sakit, dan temanku yang lain pergi mandi.”
Panji mendorong piring sisa ikannya. Ternyata ia tak makan nasi siang ini. Ia selesai dengan sebungkus pepes. “Aku ngga bilang kamu anti sosial. Tapi, dengan kamu sendiri, keliatannya orang lain mudah masuk mengambil kesempatanmu.”
“Kesem…”
“Hm, kesempatan. Mungkin Laskar bisa menangin hatimu, tapi aku barusan ngalahin dia karena dia ngga pernah makan pepesmu dan makan siang bareng kamu kayak gini. Jadi dia ngga pinter ngambil kesempatanmu, kan?”
Dua lututku membeku. Ia tepat menatapku sampai ke dasar penglihatanku. Mungkin detik ini ia berhasil mengorek semua isi kepalaku di mana nama Laskar tetap teronggok berdebu karena kubiarkan ada walau aku tak dilihatnya sebentar. Kemarin aku baru membenahi tumpukan fikiranku yang sempat kacau dengan melihat orang itu datang ke halaman kampus. Dan sekarang… aku tahu orang ini. Panji adalah saudara kembar Laskar. Mereka tidak identik dengan kepribadian yang tak sama. Kalau Laskar suka martabak telor, Panji membencinya―katanya amis. Kalau Panji suka jalan-jalan, Laskar hanya akan di dalam kamar menonton film atau bermain game. Kalau Panji suka gaya simpel, Laskar memilih yang lebih ribet. Kalau Laskar suka cewek jenis itu, Panji suka yang sebaliknya. Kalau Laskar tak suka dengan cewek ini, maka Panji akan menyukainya. Kalau Laskar tak suka denganku, itu artinya…
Aku menggigit jari telunjukku yang menyisakan rasa garam dan rempah. Isyarat ini pasti berbohong. Namun aku tak bisa membuat alasan kenapa Panji punya nomorku. Ia bahkan bisa berkata langsung denganku di dalam bus kemarin. Ia tak mungkin menamainya di kontak ponselnya tanpa sebab penting karena antara kami tak ada urusan kampus atau di kegiatan luar kampus. Lagipula dua saudara itu akan wisuda tahun ini.
“Mungkin Laskar bisa menangin hatimu, tapi aku barusan ngalahin dia karena dia ngga pernah makan pepesmu dan makan siang bareng kamu kayak gini. Jadi dia ngga pinter ngambil kesempatanmu, kan?”
Laskar tak mungkin melakukan hal itu pada gadis kuper sepertiku yang tidak pernah tampak di umum. Belakangan aku sering menertawakan diriku sendiri yang bodoh sekalipun aku tahu kepribadianku dan Laskar bertolak belakang dan aku tetap menyukainya diam-diam.
“Hei, mereka mau mampir ke Cihampelas,” Panji menggerakkan kepalanya.



(13 Oktober 2015)



sumber gambar www.freewhd.com

0 komentar:

Posting Komentar

luvne.com luvne.com ayeey.com cicicookies.com mbepp.com kumpulanrumusnya.comnya.com.com