20 Januari 2016

Tragedi Di Atas Sungai dengan Plastik Warna-Warni






            Dua ratus lima puluh menit per dua aku tidak bisa membiarkan edaran darahku mengambang tenang. Otot elastisku menggeliat terus, terputar ke arah mana saja. Mata besarku membuka lebar melihat warna hitam di atas wajahku. Aku ingin mematikan semua energi tubuhku, aku membisik tujuh kali selama lebih dari satu jam sejak aku memuntahkan makan malam yang terbungkus kertas berlubang. Bau-bau itu yang tidak pernah bisa akrab di hidung setelah delapan tahun aku menempatkan sarang tertentu di dalam inderaku khusus untuknya. Aku menggeliat dan tidak sesuatu pun bergerak kecuali bulu mataku yang naik-turun, bahkan tak pernah bisa kulihat di permukaan air sekali pun. Aku tahu angin mendesir keras tiap malam. Kulitku sudah tebal dan mati rasa. Kecuali gemericik atau ayunan air yang menabrak beberapa sampah plastik yang terganjal. Aku mulai mual lagi mengiangnya.
            Tempat tidurku lebih dari keras. Kepalaku bisa pecah di atasnya beberapa kali. Tidak! Maksudku jika aku terpelanting tidak sengaja di atas kasurku sendiri. Tapi itu tidak pernah terjadi. Kasurku terbuat dari beton dan batu. Keras dan tidak selicin sabun yang sering dipromosikan di televisi para orang-orang kumuh di rumah pemukiman mereka. Mereka membeli sabun itu dan tidak berubah. Seperti aku yang semakin hari makin busuk berkubang di sini. Entah menua atau tiba-tiba mati tak ketahuan.
            Aku tertidur tiga jam setelah suara mesin mobil yang menginjak aspal berlarut lenyap, saat lampu-lampu tegak sendirian dan tidak digantungi lagi oleh anak-anak kurang kerjaan dan kurang pendidikan. Itu artinya pagi sebentar lagi mengetuk langit bumi membuang gelap malam. Ibuku yang hanya punya tiga potong baju atasan dan satu rok hitam tertambal akan membangunkanku jika sarapan ada. Kalau tidak punya, aku akan bangun kelaparan sambil melempar satu botol dan tetangga tenda akan berteriak girang menangkapnya di permukaan air yang abu-abu. Ibu langsung datang di atasku dan menyalakan wajah galak. Terhitung jutaan atau malah miliaran kali aku tidak menikmati rasanya sarapan dengan nasi goreng, roti tawar berselai, telor mata sapi, rebusan kacang merah, atau apalah. Makan siangku adalah tulang empuk di bagian persendian. Makan malamnya… ah, lain kali jangan bicara tentang makan.
            Salahnya Ibu dan Ayah mencari rumah di kota pekat ini. Yang mereka―dan aku―tempati hanyalah sebuah hamparan tidak rata di bawah aspal kuat tertiang besar dengan besi-besi rangka dan kami mengambang di atas aliran sungai berhias plastik-plastik warna-warni tak berupa. Aku dilahirkannya (Ibu) dalam lingkaran yang tidak membuat siapa pun puas selain ketika mendengar jeritanku yang sangar dan tak putus sampai malam lalu aku tertidur. Sekarang mungkin aku berfikir itu keadaan pingsan karena Ibu tidak punya air susu untukku lalu ia memberikanku pada wanita pengemis yang gemuk yang anak balitanya dua. Kemudian jadi tiga denganku. Dua tahun aku dengannya, aku diajari mengangkat tangan di dekat kaca mobil orang-orang. Aku bosan setelah dua tahun selanjutnya. Aku pulang ke sarang tak bernama dan mulai berubah menjadi zombie kelaparan yang hidup seolah enggan, mati tapi terlalu terburu sedang aku hidup dengan maut di sekeliling.
            Surga hanya ada di bulatan kecil sana. Aku melebarkan langkah darinya, pergi ke tepian yang becek dan hilang kecantikannya. Itu surga paksaan untuk kami selama kami diam membisu dengan bola mata yang terbuka lemah. Aku delapan tahun dan menyimpan cemburu, risih, benci, kutukan, dan segalanya yang tidak boleh diucapkan kata Ibu dan Ayah. Aku tidak harus makan, mandi, dan buang hajat di air yang sama. Atau Ibu yang tiba-tiba meminjam baju dari temannya meski sama rupa, kucel. Membiarkan kami, anak kecil yang manis berkeliling membiasakan pandangan dengan sampah hijau atau lalat yang terbang cepat. Tapi aku tidak mau mati di titik saat aku lapar dan menyuap nasi sisa yang mulai kuat baunya. Atau pada malam ketika tidak ingat lagi rasanya kasur kapuk, busa, dan sebagainya kemudian tiba-tiba tertidur pingsan tidak kembali sadar sama sekali.
            Sore hari rasanya seolah di tengah wilayah konflik. Panas, debu, lapar, luka di lambung, bibir pecah, wajah gelap berlumpur, menggeliat, terkapar lemah. Diam-diam teman Ibu yang bertudung kain panjang menangis keras memandang ke permukaan air meneriaki nama anaknya. Aku fikir ia tidak tahan keadaaan ini, tapi nyatanya anak balitanya yang pamit lebih dulu karena lelah minum air putih. Tubuh kurusnya yang kering menggelinding melampaui kamar tak berdinding dan terjun ke sungai yang merendam ribuan plastik sampah. Aku tidak melihat badannya sesaat, kemudian dua hari besoknya ia mengambang biru dan gempal di kilometer sekian, jauh meninggalkan kamarnya dan Ibunya yang berteriak parau sampai pingsan. Biar saja. Biar saja ia jauh tidak mengenal rasa pudarnya nasi bau dan tulang ayam.



Diketik pada 04 Juni 2015
Afida Harris



sumber gambar: www.aliexpress.com

0 komentar:

Posting Komentar

luvne.com luvne.com ayeey.com cicicookies.com mbepp.com kumpulanrumusnya.comnya.com.com