Dua
ratus lima puluh menit per dua aku tidak bisa membiarkan edaran darahku
mengambang tenang. Otot elastisku menggeliat terus, terputar ke arah mana saja.
Mata besarku membuka lebar melihat warna hitam di atas wajahku. Aku ingin
mematikan semua energi tubuhku, aku membisik tujuh kali selama lebih dari satu
jam sejak aku memuntahkan makan malam yang terbungkus kertas berlubang. Bau-bau
itu yang tidak pernah bisa akrab di hidung setelah delapan tahun aku
menempatkan sarang tertentu di dalam inderaku khusus untuknya. Aku menggeliat
dan tidak sesuatu pun bergerak kecuali bulu mataku yang naik-turun, bahkan tak
pernah bisa kulihat di permukaan air sekali pun. Aku tahu angin mendesir keras
tiap malam. Kulitku sudah tebal dan mati rasa. Kecuali gemericik atau ayunan
air yang menabrak beberapa sampah plastik yang terganjal. Aku mulai mual lagi
mengiangnya.
Tempat
tidurku lebih dari keras. Kepalaku bisa pecah di atasnya beberapa kali. Tidak!
Maksudku jika aku terpelanting tidak sengaja di atas kasurku sendiri. Tapi itu
tidak pernah terjadi. Kasurku terbuat dari beton dan batu. Keras dan tidak
selicin sabun yang sering dipromosikan di televisi para orang-orang kumuh di
rumah pemukiman mereka. Mereka membeli sabun itu dan tidak berubah. Seperti aku
yang semakin hari makin busuk berkubang di sini. Entah menua atau tiba-tiba
mati tak ketahuan.
Aku
tertidur tiga jam setelah suara mesin mobil yang menginjak aspal berlarut
lenyap, saat lampu-lampu tegak sendirian dan tidak digantungi lagi oleh anak-anak
kurang kerjaan dan kurang pendidikan. Itu artinya pagi sebentar lagi mengetuk
langit bumi membuang gelap malam. Ibuku yang hanya punya tiga potong baju
atasan dan satu rok hitam tertambal akan membangunkanku jika sarapan ada. Kalau
tidak punya, aku akan bangun kelaparan sambil melempar satu botol dan tetangga
tenda akan berteriak girang menangkapnya di permukaan air yang abu-abu. Ibu
langsung datang di atasku dan menyalakan wajah galak. Terhitung jutaan atau
malah miliaran kali aku tidak menikmati rasanya sarapan dengan nasi goreng,
roti tawar berselai, telor mata sapi, rebusan kacang merah, atau apalah. Makan
siangku adalah tulang empuk di bagian persendian. Makan malamnya… ah, lain kali
jangan bicara tentang makan.
Salahnya
Ibu dan Ayah mencari rumah di kota pekat ini. Yang mereka―dan aku―tempati
hanyalah sebuah hamparan tidak rata di bawah aspal kuat tertiang besar dengan
besi-besi rangka dan kami mengambang di atas aliran sungai berhias
plastik-plastik warna-warni tak berupa. Aku dilahirkannya (Ibu) dalam lingkaran
yang tidak membuat siapa pun puas selain ketika mendengar jeritanku yang sangar
dan tak putus sampai malam lalu aku tertidur. Sekarang mungkin aku berfikir itu
keadaan pingsan karena Ibu tidak punya air susu untukku lalu ia memberikanku
pada wanita pengemis yang gemuk yang anak balitanya dua. Kemudian jadi tiga
denganku. Dua tahun aku dengannya, aku diajari mengangkat tangan di dekat kaca
mobil orang-orang. Aku bosan setelah dua tahun selanjutnya. Aku pulang ke
sarang tak bernama dan mulai berubah menjadi zombie kelaparan yang hidup seolah
enggan, mati tapi terlalu terburu sedang aku hidup dengan maut di sekeliling.
Surga
hanya ada di bulatan kecil sana. Aku melebarkan langkah darinya, pergi ke
tepian yang becek dan hilang kecantikannya. Itu surga paksaan untuk kami selama
kami diam membisu dengan bola mata yang terbuka lemah. Aku delapan tahun dan
menyimpan cemburu, risih, benci, kutukan, dan segalanya yang tidak boleh
diucapkan kata Ibu dan Ayah. Aku tidak harus makan, mandi, dan buang hajat di
air yang sama. Atau Ibu yang tiba-tiba meminjam baju dari temannya meski sama
rupa, kucel. Membiarkan kami, anak kecil yang manis berkeliling membiasakan
pandangan dengan sampah hijau atau lalat yang terbang cepat. Tapi aku tidak mau
mati di titik saat aku lapar dan menyuap nasi sisa yang mulai kuat baunya. Atau
pada malam ketika tidak ingat lagi rasanya kasur kapuk, busa, dan sebagainya
kemudian tiba-tiba tertidur pingsan tidak kembali sadar sama sekali.
Sore
hari rasanya seolah di tengah wilayah konflik. Panas, debu, lapar, luka di
lambung, bibir pecah, wajah gelap berlumpur, menggeliat, terkapar lemah.
Diam-diam teman Ibu yang bertudung kain panjang menangis keras memandang ke
permukaan air meneriaki nama anaknya. Aku fikir ia tidak tahan keadaaan ini,
tapi nyatanya anak balitanya yang pamit lebih dulu karena lelah minum air
putih. Tubuh kurusnya yang kering menggelinding melampaui kamar tak berdinding
dan terjun ke sungai yang merendam ribuan plastik sampah. Aku tidak melihat
badannya sesaat, kemudian dua hari besoknya ia mengambang biru dan gempal di
kilometer sekian, jauh meninggalkan kamarnya dan Ibunya yang berteriak parau
sampai pingsan. Biar saja. Biar saja ia jauh tidak mengenal rasa pudarnya nasi
bau dan tulang ayam.
Diketik pada 04 Juni 2015
Afida Harris
sumber gambar: www.aliexpress.com


0 komentar:
Posting Komentar