Aku dibentuk oleh sebuah ketakutan yang menyesap setiap malam menjelang lelap. Gelisah. Mungkin ada baiknya aku mengatakan sesuatu. Mengatakan hal itu kepadamu. Apakah yang selama ini kau fikirkan? Aku melihatmu di dalam lemariku, di lembaran garis buku catatanku, di tumpukan awan bulu ayam itu, di ponselku, di sekop sendok yang memantul. Aku gila karena berlebihan tentangmu yang sebenarnya aku tahu, kau mengabaikan separuh lebih dari aku. Sudahlah, aku tak membahasnya, aku sedang terburu-buru saja. Karena aku tahu jawabannya akan 'ya' dan 'tidak', seharusnya aku tak tahu lebih dulu. Dan kata 'seharusnya' jangan pernah ada lagi.
Ketakutan kemudian membentukku menjadi kecil, bulat, gemuk, pesek, dan keriting. Aku tak bilang rambutku keriting, aku hanya memaknai kalau akan lebih susah dengan sesuatu yang keriting. Jariku keriting menghapus tulisan namamu, fikiranku sampai pori-pori kulit kepalaku tak berbenah. Aku malu sekali, tapi kali ini aku tidak sedang membicarakanmu. Aku bercerita tentang perbuatanmu. Di mana aku bisa menulis dengan baik dan rapi kronologi darimu. Aku sudah cukup untuk tak tertarik lebih panjang karena aku bosan dan kau yang paling bosan soal ini. Benar 'kan?
Akhir-akhir ini cuaca aneh sekali. Siang panas, malam mendingin lembab. Mungkin itu yang akan kulakukan juga. Aku benar-benar tidak berlebihan kan karena dianggurkan seperti gorengan depan pasar itu?

0 komentar:
Posting Komentar